Kepala Sekolah sebagai Manager Pendidikan

 

 Berbicara tentang kemajuan satuan lembaga pendidikan di tingkat bawah yakni sekolah, fokus kita pasti akan tertuju pada sosok Kepala Sekolah (Kasek). Karena kiprah dan peran Kasek memang sangat dominan dalam menentukan jalannya roda pendidikan. Dan sebagai pengendali lembaga, Kaseklah penentu arah maju dan mundurnya sekolah.

 Karena itu, sekolah sebagai suatu komunitas pendidikan, sangat membutuhkan hadirnya figur pemimpin yang dapat mendayagunakan semua potensi yang ada dalam sekolah untuk mewujudkan visi dan misi sekolah. Pada level ini, Kasek dituntut untuk berperan tidak hanya sebagai akumulator yang mengumpulkan aneka ragam potensi penata usaha, guru, karyawan dan peserta didik; tapi juga konseptor managerial yang bertanggungjawab pada kontribusi masing-masing demi efektivitas dan efisiensi kelangsungan pendidikan.

Sayang sekali, di tengah derasnya arus tuntutan akan hadirnya figur pemimpin yang mampu memberdayakan potensi sekolah, masih saja ada Kasek yang tidak memandang rekan-rekan guru sebagai sumber daya yang potensial dalam memajukan sekolah. Hal ini ditandai oleh berbagai kebijakan dan keputusan yang kurang partisipatif. Ada kesan seolah-olah mau kerja sendiri. Loyalitas buta dari mitra kerjanya malah dibanggakan. Orang yang kritis menyiasati keadaan kerapkali dianggap musuh yang segera disingkirkan. Itu pertanda rendahnya intelektualitas dan gagal membangun suatu team work yang solid.

Krisis tersebut kian bertambah jika Kasek tidak mengetahui tugas-tugasnya sebagai seorang planner, organizer, actuater dan controller. Komunikasi yang interpersonal dengan rekan kerja tidak banyak dilakukan. Manajemen waktu, kurikulum, system informasi dan pembagian tugas yang jelas kepada guru-guru atau wakil-wakilnya seolah-olah sudah ada tetapi tanpa arah yang pasti.

Mekanisme komunikasi yang melahirkan suatu keputusan penting terpenjarakan dalam persepsi yang keliru akibat tak bisa membedakan antara pertemuan dan pengumuman, sehingga sesuatu yang urgen dan bahkan harus segera dipecahkan malah dibuat dalam bentuk pemberitahuan yang tak menuntut banyak masukan dan tanggapan. Kesannya, Kasek itu orang yang sudah banyak pengetahuan dan pengalaman sehingga meremehkan input yang datang dari grassroot. Sang Kasek jarang berada di kantor, super sibuk, gemar menghadiri pertemuan di luar sekolah. Ironisnya, Kasek yang sibuk itu tidak mengetahui perkembangan informasi yang mungkin sangat berguna bagi peserta didik dan perkembangan rekan-rekannya.

Kegagalan sekolah sebetulnya sudah diambang pintu bila letak prioritas kebutuhan sekolah bukan pada kualitas intern tetapi pada promosi dan sensasi. Kecanggihan sekolah dimegahkan pada deretan CD komputer sambil melupakan ketersediaan buku dan majalah yang merangsang kesadaran membaca peserta didik.

Manajer di Sekolah

Mengimbangi krisis yang ada, Kasek tidak hanya dituntut sebagai educator dan administrator, melainkan juga harus berperan sebagai manajer dan supervisor yang mampu menerapkan manajemen bermutu. Indikasinya ada pada iklim kerja dan proses pembelajaran yang konstruktif, berkreasi serta berprestasi.

Manajemen sekolah tidak lain adalah pendayagunaan dan penggunaan sumber daya yang ada dan yang dapat diadakan secara efisien dan efektif untuk mencapai visi dan misi sekolah. Kasek bertanggung jawab atas jalannya lembaga sekolah dan kegiatannya.

Pada prinsipnya manajemen sekolah itu sama dengan manajemen yang diterapkan di perusahaan. Perbedaannya terdapat pada produk akhir yang dihasilkan. Pada manajemen sekolah, yang dihasilkan adalah manusia yang berubah. Dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak berpengalaman menjadi berpengalaman, dari yang tak bisa menjadi bisa. Sedangkan sasaran manajemen perusahaan, terletak pada kualitas produksi benda-benda mati.

Jadi, manajemen sekolah berandil kuat pada pembentukan kualitas manusia yang merupakan generasi penerus bangsa. Atensi masyarakat yang telah teralienasikan akibat propaganda wacana teknologi dalam pembelajaran harus segera diobati dengan mengedepankan wacana kualitas Kasek.

Para ahli berpendapat bahwa: salah satu input strategis bagi langkah maju perusahaan adalah membentuk konsep yang berbasiskan sumber daya manusia demi suatu profitabilitas yang tinggi. Tak ada salahnya konsep ini dipakai di sekolah. Secara sederhana dapat diterjemahkan bahwa keberhasilan sekolah tergantung pada teknik mengelola manusia-manusia yang ada di sekolah untuk suatu keberhasilan yang tak terukur nilainya yaitu pemanusiaan manusia dalam diri peserta didik dan penghargaan bagi rekan-rekan pendidik sebagai insan yang kreatif dan peduli akan nasib generasi penerus bangsa.

Tujuh kegiatan pokok yang harus diemban Kasek yakni: merencanakan, mengorganisasi, mengadakan staf, mengarahkan/orientasi sasaran, mengkoordinasi, memantau serta menilai/evaluasi. Melalui kegiatan perencanaan terjawablah beberapa pertanyaan: Apa yang akan, apa yang seharusnya dan apa yang sebaiknya? Hal ini tentu berkaitan dengan perencanaan reguler, teknis-opersional dan perencanaan strategis (jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang).

Dalam kegiatan perencanaan, garapan bidang sasaran itu dibagi, dipilah, dikelompokkan serta diprioritaskan. Pusat perhatian dan pemikiran tertuju pada pertanyaan: Bagaimana membagi, memilah dan mengelompokkan sasaran itu sehingga dapat diselesaikan?

Pada kegiatan pengadaan staf, yang dilakukan adalah berpikir tentang siapa yang diperlukan dan dipercayakan dalam bidang garapan, dengan terlebih dahulu dipilah-pilah dan diprioritaskan.

Pertanyaan mengenai kejelasan siapa yang harus mengarahkan dan dari siapa pengarahan/petunjuk itu didapat dilakukan pada tahap pengarahan/orientasi sasaran. Apa yang harus diberitahukan? Bagaimana mengerjakannya? Kapan mulai dan kapan selesai?

Kemudian dalam tahap pengkoordinasian yang harus dilakukan adalah menjadwalkan waktu pengerjaannya agar masing-masing bagian dapat mulai dan selesai pada waktunya. Di sini ada keharusan bagi yang diserahi tugas menggarap bagian-bagian tertentu kembali mempertanyakan kapan harus mulai dan kapan harus mempertanggungjawabkannya. Mereka harus memperhitungkan secara matang dan tepat mengenai waktu yang harus digunakan selama proses garapan berlangsung.

Kasek dapat mengetahui bagaimana proses pengerjaan itu terlaksana sesuai rencana, cara, hasil dan waktu penyelesaian. Kegiatan ini dapat dipantau agar memperoleh informasi perkembangan yang aktual. Antisipasi pun bisa dilakukan terhadap hal-hal yang tak sesuai dengan rencana.

Untuk penilaian/evaluasi, Kasek dapat memperoleh kesesuaian rencana dengan realitas melalui eksplorasi pertanyaan-pertanyaan. Apakah hasil yang diperoleh sesuai dengan yang direncanakan? Adakah perbaikan yang dapat dilakukan? Pada tahap ini Kasek dapat memberikan penghargaan kepada mereka yang berprestasi dan pembinaan bagi mereka yang gagal atau kurang berprestasi.

Seorang manajer sekolah bertanggung jawab dan yakin bahwa kegiatan di sekolah adalah menggarap rencana dengan benar lalu mengerjakannya dengan benar pula. Karena itu visi dan misi sekolah harus dipahami terlebih dahulu sebelum menjadi titik tolak prediksi dan sebelum disosialisasikan. Hanya dengan itu Kasek dapat membuat prediksi dan merancang langkah antisipasi yang tepat sasaran. Selain itu diperlukan suatu unjuk profesional yang kelihatan sepele tetapi begitu urgen seperti kemahiran menggunakan filsafat pendidikan, psikologi, ilmu kepemimpinan serta antroplogi dan sosiologi.

Guru dan Siwa Mitra Kasek

            Penggunaan School Based Management ( Manajemen Berbasis Sekolah ) oleh Pemerintah Indonesia dalam kerangka meminimalisasi sentralisme pendidikan mempunyai implikasi yang signifikan bagi otonomi sekolah. Hal itu berarti sekolah diberikan keleluasaan untuk mendayagunakan sumber daya yang ada secara efektif. Oleh karena implikasi itu maka sekali lagi peran Kasek sangat dibutuhkan untuk mengelola manusia-manusia yang ada dalam organisasi sekolah, termasuk memiliki strategi yang tepat untuk mengelola konflik.

Yang penting baginya adalah mempunyai pemahaman yang tangguh akan hakikat manusia. Karena pada dasarnya manusia tidak memiliki sifat bawaan yang tidak menyukai pekerjaan. Di bawah kondisi tertentu manusia bersedia mencapai tujuan tanpa harus dipaksa dan ia mampu diserahi tanggung jawab. Urgensitasnya bagi Kasek adalah menerapkan gaya kepemimpinan yang partisipatif demokratik dan memperhatikan perkembangan profesional sebagai salah satu cara untuk memotivasi guru dan siswa.

Penulis: Dra. Cahyaning Dyah S. (Kepala UPT Pendidikan Ajung Jember)

Incoming search terms:

kepala sekolah sebagai manajer
Tags: , , , ,

Leave a Reply

Kunjungan

  • 25516Total :
  • 56Hari ini:
  • 58Kemarin:
  • 80Perhari:
  • 1Sedang Online:

Photo Gallery

Log in | Distributed by Tutorial Blog
You might also likeclose