situstalenta.com

Berbagi Informasi Pendidikan

Membentuk Jati Diri dengan Belajar dari Sang Penakluk Konstantinopel

Oleh Puspita Melati Anggraeni

Masa remaja merupakan masanya mencari jati diri, begitu katanya. Ketika remaja dengan apa yang mereka lakukan selalu dapat pembelaan bahwa mereka masih muda dan sedang masanya mencari jati diri, kalimat ini menjadi suatu bentuk pemakluman masyarakat dan seolah-olah mengaminkan apa yang remaja perbuat.

Zaman sekarang dengan kaum milenial dengan sejuta istilah dan kontroversinya, remaja seolah disibukan oleh hal hal yang happening di dunia maya, istilah kids zaman now, melekat pada remaja atau anak-anak dengan kelakuan ‘nyeleneh’ yang  mengundang gelengan-gelengan kepala.  Lalu benarkah pengistilahan dengan mencari jati diri?

Memang apa yang dicari sedang apa yang kita mau, yang kita tahu segala modal dan potensi sudah melekat pada diri? Istilah ini pada akhirnya memang akan memunculkan pandangan bahwa remaja identik dengan kebebasan dan perilakunya dijadikan sebagai hal yang wajar.

Saat seorang remaja membolos sekolah, tak ayal ada yang mengatakan bahwa hal itu merupakan hal biasa, lalu fenomena wabah pacaran di kalangan remaja menjadi hal yang biasa dan suatu keanehan bagi mereka dengan status jomblo-nya padahal apa manfaat dari menjalin hubungan yang tak jelas sedang masa depan menanti untuk diperjuangkan. Miris memang kids jaman now. Walaupun tak menutup mata bahwa remaja lainnya pun menonjol dengan prestasi mereka namun coba kita pikirkan manakah yang lebih menonjol?

Bila melihat kisah silam, kisah seorang pemuda yang namanya masih terkenal sebagai pimpinan pasukan terbaik yang pada 1453 Masehi berhasil menaklukan konstantinopel, dia Muhammad Al Fatih.

Di zamannya belum ada istilah kaum milenial, kids zaman nowatau istilah remaja pencari jati diri. Muhammad Al Fatih adalah sosok yang sejak kecil menempa dirinya untuk menjadi sosok pemimpin yang  telah di nubuatkan baginda Nabi Muhammad Saw. Bahkan ketika usianya masih 7 tahun, tidak ada ajang unjuk gigi atau hal nyeleneh dengan dalih mencari jati diri, Muhammad Al Fatih, dia bukan mencari jati diri melainkan dia membentuknya, dia menempanya sesuai tuntunan dari kalam ilahi dan nubuat sang baginda Nabi, dialah yang ketika usianya 23 tahun berhasil meneruskan perjuangan para terdahulunya untuk menaklukan konstantinopel dan berhasil memperoleh kemenangan.

Ini menjadi tugas kita bersama bahwa jati diri bukan untuk dicari tapi dibentuk. Ingin seperti apakah kita ini? Ingin menjalankan misi seperti apakah di muka bumi? Mencari seorang da’i sekaligus peneliti, menteri, jendral atau hanya ingin menjadi anak alay dengan label kids zaman now? Jadi bagaimana memulainya?

Mulai bentuk sebuah rencana ingin jadi seperti apa kita nantinya, istilah ini disebut begin with the end. Seperti Muhammad Al Fatih yang memulai dengan mimpinya dulu, ia ingin menjadi sebaik-baik pemimpin atau sebaik-sebaik pasukan yang dikatakan Rasulullah, kemudian menerapkan langkah-langkah yang perlu dilakukan atau bisa kita sebut misi.

Setelah memperoleh mimpinya Muhammad Al Fatih meninggalkan kemewahan segagai anak sultan dengan memilih belajar pada ulama. Selanjutnya istiqomah atau konsisten, bila masih terbesit keraguan untuk konsisten, bisa kita tengok sebuah kutipan kisah detik-detik penaklukan konstantinopel, hari itu Muhammad Al Fatih naik ke atas  mimbar dan didepannya seluruh prajurit tengah berdiri bersiap dengan apa yang akan dikatakan sang pimpinan, Muhammad Al Fatih berkata “siapa disini yang pernah meninggalkan shalat wajib setelah ia baligh?” hening, tidak ada yang duduk semua masih berdiri, kemudian beliau bertanya lagi, “siapa disini yang pernah mengkhatamkan Al –Qur’an lebih dari 30 hari?” beberapa prajurit mulai duduk “siapa yang pernah meninggalkan shalat malam barang seharipun?”mulai banyak prajurit yang duduk “siapa yang pernah meninggalkan puasa senin kamis?”banyak prajurit pun duduk, mereka semua cemas dengan perasaan campur aduk takut tak diajak ke medan perang “siapa yang pernah kehilangan shaum ayyamun bid?”semua prajurit telah duduk, tidak ada yang berdiri kecuali Muhammad Al Fatih itu sendiri.

Nyatalah betapa konsistennya dia dalam belajar, beribadah sampai beliau lah pemimpin yang telah di nubuatkan Rasulullsah dalam haditsnya sebagai suatu kabar gembira. Setiap apa yang dilakukan dengan konsisten akan menjadi kebiasaaan dan kebiasaan akan menjadi karakter dan karakter kita akan menentukan masa depan kita. Muhammada Al Fatih membentuk jati dirinya, ia membentuk dirinya menjadi seorang sebaik-baik pemimpin dan jiwa pemimpin melekat padanya. Terakhir yang tak kalah penting adalah lingkungan.

Seorang berkata bahwa kamu akan tetap menjadi dirimu sendiri kecuali apa yang kamu baca dan orang orang yang kamu temui. Betapa orang yang sering bergaul dengan kita akan mempengarui diri ini. Lihatlah bagaimana Muhammad Al Fatih yang getol belajar bersama para ulama dan cendekia, lingkungannya lingkungan penuh ilmu.

Kisah-kisah hebat selalu terisi dengan remaja, seolah remaja memang disediakan lembar khusus dalam sejarah, namun memang remaja adalah sosok pendobrak dengan akal yang segar dan fisik yang bugar, itulah sebabnya remaja kita perlu mengerti bahwa diusianya bukan saatnya mencari diri karena sebenarnya apa yang kita mau di masa depan itu ada pada diri kita sendiri hanya bagaimana kita membentuknya. Selalu ada pilihan untuk menjadi baik, kita tinggal memilihnya. Berdalih dibalik pencarian jati diri atau membangun mimpi dengan membentuk jati diri? Hidup adalah pilihan bung, pilihanmu hari ini akan menentukan siapa kamu di masa depan.

(Visited 5 times, 5 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *