situstalenta.com

Berbagi Informasi Pendidikan

Menepis Bid’ah – Mengusir Fitnah

Oleh: Drs.H. Achmad Sudiyono, SH. MSi. MPsi

Menjadi kewajiban bagi sesama muslim untuk saling mengingatkan. Karena antara umat Islam yang satu dengan umat Islam yang lain adalah bersaudara. Kewajiban itulah yang mendorong saya dalam berbagai kesempatan menyampaikan pesan untuk bersama-sama menjaga kerukunan, dan berusaha menepis bid’ah serta mengusir fitnah yang menjadi sumber dari terpecahbelahnya umat Islam utamanya mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan.

Mengapa bid’ah dan fitnah dikatakan sebagai sumber dari kehancuran?

Karena perbuatan bid’ah akan memecah-belah kaum muslim serta menyeret pelakunya pada kerusakan agama dan hatinya. Perbuatan bid’ah akan menjadikan hati pelakunya menjadi benci kepada As-Sunnah. Setan akan menghiasi amalan bid’ah sehingga menyeret orang yang tertipu untuk mengamalkannya meskipun harus mengeluarkan banyak biaya dan menyita sebagian besar waktunya. Dan bid’ah akan menyeret pelakunya menjadi orang yang sombong untuk menerima kebenaran. Hal itu karena setiap pelaku bid’ah akan membanggakan dirinya dan menganggap cara serta amalannya adalah yang paling baik.

“Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru, karena sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap perkara yang diada-adakan itu bid`ah dan setiap bid`ah itu adalah kesesatan”. (HR. Ibnu Abi Ashim)

Begitu juga dengan fitnah. Perbuatan fitnah termasuk diantaranya adalah mengadu-domba akan menimbulkan benih permusuhan. Sehingga masyarakat yang dipenuhi budaya fitnah, hidupnya tidak akan pernah tenang dan senantiasa merasa terancam. Apabila fitnah tersebar secara leluasa, maka nilai-nilai agama akan musnah dalam diri seseorang atau masyarakat. Karena itu Islam dengan tegas melarang segala bentuk fitnah dengan tujuan apapun.

Bahkan tentang bahaya dari perbuatan fitnah ini, Allah SWT. berfirman: “Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh”. (QS. Al-Baqarah : 217), serta: “Fitnah itu lebih berbahaya dari pembunuhan “ (Al Baqarah 191). 

Bid’ah

            Definisi bid’ah dalam ilmu agama menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
adalah perkara wajib maupun sunnah yang tidak Allah dan rasul-Nya syariatkan. Sedang menurut Suyuthi: Bid’ah adalah sebuah ungkapan tentang perbuatan yang menentang syariat dengan suatu perselisihan atau suatu perbuatan yang menyebabkan menambah dan mengurangi ajaran syariat.

Definisi bid’ah dalam dimensi ilmu agama tidak ingin saya bahas dalam tulisan ini. Karena penekanan kata bid’ah akan lebih saya fokuskan pada unsur lughowi (bahasa). Menurut Ibnu Rajab: Bid’ah adalah mengada-adakan suatu perkara yang tidak ada asalnya dalam syariat. Adapun yang memiliki bukti dari syariat maka bukan bid’ah walaupun bisa dikatakan bid’ah secara bahasa.

Apa yang disampaikan Ibnu Rajab tersebut memberi pengertian bahwa bid’ah juga bisa dikaji dari ilmu bahasa, yang artinya kurang lebih adalah menyampaikan sesuatu yang sebenarnya tidak ada, menjadi seolah-olah ada, sehingga menimbulkan persepsi yang salah dan menyesatkan pandangan serta pemikiran.

Bid’ah dalam pengertian sebagaimana tersebut di atas kerapkali diusung oleh pribadi-pribadi yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang dia inginkan. Tidak peduli terhadap dampak buruk dari apa yang ia katakan ataupun ia tulis.

Dengan menyampaikan sesuatu yang tidak benar, dan mengemasnya menjadi seolah-olah benar, tukang bid’ah ini menebar jala kesesatan demi keuntungan pribadi dan mengabaikan penderitaan yang harus ditanggung korban-korban dari bid’ah yang dia sampaikan.

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa membuat-buat hal baru yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya” (H.R. Muslim).

Rasulullah SAW juga bersabda : “Berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru, karena sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap perkara yang diada-adakan itu bid`ah dan setiap bid`ah itu adalah kesesatan”. (HR. Ibnu Abi Ashim)

Dalam Hadist yang diriwayatkan Ahmad, Rasulullah juga menegaskan: “Dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Fitnah

Fitnah di dalam bahasa Arab berarti namimah yaitu menyebarluaskan berita jelek atau cerita yang tidak benar tentang suatu hal atau orang lain, baik secara diam-diam maupun secara terbuka. Fitnah ini sebenarnya ditegakkan atas tiga perkara yaitu kedustaan, kedengkian dan kemunafikan.

Fitnah sering terjadi ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Fitnah tidak sekedar menyebarkan berita buruk, tetapi juga mengadu domba dan memutar balikkan fakta. Sehingga Allah SWT menggambarkan: “Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah : 191)

Gambaran yang disampaikan Allah SWT tersebut memberi peringatan kepada umat manusia untuk senantiasa menjauh dari perbuatan fitnah, dan sebisa mungkin melepaskan diri dari jeratan fitnah. Karena dampak yang ditimbulkan oleh fitnah tidak pernah positif dan selalu negatif. Fitnah amat berbahaya. Dan beberapa bahaya yang ditimbulkan oleh fitnah antara lain adalah:

  1. Menimbulkan kesengsaraan, baik bagi si pemfitnah maupun bagi yang di fitnah.
  2. Menimbulkan keresahan ditengah masyarakat
  3. Merusak sendi-sendi persatuan dan kesatuan
  4. Mencelakakan orang lain
  5. Merugikan orang lain dan diri sendiri
  6. Bagi pemfitnah dijamin masuk Neraka (mendapat siksa) dan diancam tidak masuk Syurga, sebagaimana Hadist Nabi SAW:“Tidak akan masuk Syurga orang yang suka adu domba (memfitnah).”(HR. Bukhari)

Fitnah biasanya disebarkan dengan tujuan menjelek-jelekkan seseorang atau sekelompok/golongan tertentu. Sehingga dosa pembuat fitnah dapat digolongkan sebagai dosa sesama manusia. Artinya, dosa itu tidak akan diampunkan Allah, melainkan orang yang difitnah itu memberi ampunan terhadap perbuatan si tukang fitnah.

Dosa penyebar fitnah dapat diumpamakan api yang membakar ranting kering. Api yang berkobar dalam waktu sekejap akan membuat ranting menjadi abu. Begitu juga dengan dosa penyebar fitnah, akan menyebabkan pahala dan amal kebaikannya lenyap sehingga penyebar fitnah akan menjadi muflis di akhirat nanti.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan fitnah kepada orang-orang yang mu’min laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka adzab Jahannam dan bagi mereka adzab (neraka) yang membakar”. (QS. Al-Buruj : 10).

Nabi Muhammad SAW juga mempertegas dengan sabdanya: ”Tidak akan masuk surga orang yang menghambur-hamburkan fitnah (suka mengadu domba).” (HR Abu Dawud dan At-Thurmudzi). Na’udzubillaah Tsumma Na’udzubillaah.

Menghindar dari Bid’ah dan Fitnah

Penyebaran bid’ah dan fitnah mudah sekali dilakukan dalam era teknologi informasi dan komunikasi modern sekarang ini. Jaringan internet, dan berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik adalah sarana ampuh untuk digunakan sebagai alat penyebar fitnah. Hasil tekhnologi yang sepatutnya digunakan untuk kebaikan, kini banyak yang disalahgunakan untuk menyebarkan fitnah. Sehingga menjadi suatu ancaman tersendiri jika kita tidak berhati-hati.

Karena itu Islam mengajarkan kepada kita agar senantiasa menyeleksi setiap berita yang kita terima maupun yang akan kita sampaikan kepada orang lain, agar kita tidak terperangkap dalam jaring-jaring fitnah. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Wahai orang-orang yang beriman. Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan ( kecerobohan ) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” ( QS.Al Hujurat 6 ).

Dalam Islam, sesuatu berita benar tetap tidak boleh disebarkan jika orang yang terkait dengan berita tersebut tidak menghendaki berita tentang dirinya disebarluaskan kepada orang lain. Jika menyebarkan berita yang benar saja sudah dilarang, apalagi menyebarkan berita yang tidak benar.

Imam Ghazali dalam buku Ihya’ Ulumuddin menjelaskan: bahwa perbuatan membocorkan rahasia orang lain dan menjatuhkan kehormatannya dengan cara membuka rahasianya yang tidak ingin diketahui oleh orang lain maka dianggap sebagai perbuatan mengadu-domba dan fitnah.

Mengenai berita benar dan berita tidak benar yang disebarkan tanpa kebenaran atau kerelaan orang berkaitan, Rasulullah SAW bersabda: “Adakah kamu semua mengetahui apakah ghibah (mengumpat)? Sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Lalu Baginda meneruskan sabdanya: Kamu berkata mengenai saudara kamu perkara yang tidak disenanginya. Lalu ditanya oleh seorang sahabat: Walaupun saya berkata perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya?’ Rasulullah bersabda lanjut: “Jika kamu berkata mengenai perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya berarti kamu mengumpatnya, jika perkara yang tidak berlaku pada dirinya berarti kamu memfitnahnya.” (Hadis riwayat Abu Hurairah).

Larangan mencari dan membocorkan rahasia orang lain jelas dilarang Allah seperti dijelaskan dalam firman-Nya: “Dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang lain.” (Surah al-Hujurat, ayat 12)

Karena itu, marilah kita senantiasa menghindar dari penyakit bid’ah dan fitnah.Untuk menghindar dari kedua penyakit ini, berusahalah:

  1. Selalu waspada dan hati-hati dalam setiap masalah
  2. Jangan membuka rahasia (aib) orang lain
  3. Menumbuhkan rasa persamaan dan kasih sayang sesama manusia
  4. Mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan nyata di tengah masyarakat
  5. Membiasakan diri bersyukur kepada Allah SWT dan merasa cukup atas segala pemberian Allah
  6. Menjauhi seluruh penyebabnya, seperti mengikuti hawa nafsu, persaingan duniawi yang tidak bersih dan lain-lain
  7. Berhati-hati dalam berbicara, bertindak dan dalam menerima kebenaran informasi.

Selain  itu, ingatlah selalu bahwa manusia tidak akan pernah lepas dari salah dan lupa, karena manusia itu memang tidak sempurna, dan bisa berbuat khilaf. Manusia pada umumnya hidup di balik tabir, yang oleh Allah –dengan kebijakan-Nya– digunakan untuk menutupi perbuatan-perbuatannya. Kalau saja tabir Ilahi ini diangkat untuk memperlihatkan semua kesalahan dan kekeliruan kita, niscaya semua orang akan lari satu dengan yang lain dengan rasa jijik dan masyarakat akan runtuh hingga ke dasar-dasarnya. Itulah sebabnya mengapa Allah melarang kita membicarakan kejelekan orang lain. Maksudnya agar kita terlindung dari pembicaraan orang lain mengenai diri kita.
Dengan wujud dan kelemahan manusia seperti itulah, agama kemudian melarang kita untuk saling menggunjing dan, apalagi, menfitnah. Banyak ayat suci Alquran dan hadits Nabi Muhammad SAW yang mencela keras segala bentuk bid’ah dan fitnah. Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (Al-Nahl: 105).

Manusia dan tindakannya di dalam kehidupan merupakan salah satu dari fenomena akidahnya. Untuk itu kita diminta untuk berpegang teguh pada akidah yang telah ditetapkan dan digariskan agama. Para ulama mengatakan, kalau akidah kita baik, maka akan baik dan lurus pula perilaku kita. Dan, apabila akidah kita rusak, akan rusak pula perilaku kita. Oleh karena itu, maka akidah tauhid dan iman adalah penting dan dibutuhkan oleh manusia untuk menyempurnakan pribadinya dan mewujudkan kemanusiaannya.
Ajakan kepada akidah ini merupakan hal pertama yang dilakukan Rasulullah agar ia menjadi batu pertama dalam bangunan umat Islam. Karena dengan kekokohan akidah di dalam jiwa manusia, akan dapat mengangkatnya dari materialisme yang rendah dan mengarahkannya kepada kebaikan, keluruhan, kesucian, dan kemuliaan.

Apabila akidah ini telah berkuasa, maka ia akan melahirkan keutamaan-keutamaan manusia yang tinggi seperti keberanian, kedermawanan, kebajikan, ketenteraman, dan pengorbanan. Orang yang berpegang pada akidah tidak akan mau melakukan perbuatan-perbuatan yang mengarah pada bid’ah dan fitnah. Karena dengan akidahnya itu, ia tidak ingin tergelincir pada jurang kedosaan yang dikutuk agama. (*)

(Visited 15 times, 3 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *