80 Juta Anak Indonesia Masa Depannya Direnggut Covid-19

masa depan anak indonesia

JAKARTA, situstalenta.com – Covid- 19 mengecam masa depan lebih dari 80 juta anak Indonesia. Hak mereka atas pembelajaran serta kesehatan terenggut. Ancaman hilangnya satu generasi bangsa juga terpampang di depan mata.

Lebih 3 bulan lamanya, anak- anak Indonesia terkurung dalam rumah. Sekolah, bermain, ibadah, bersosialisasi, dan seluruh aktifitas dilakukan di rumah. Perubahan kondisi ekonomi keluarga membuat status gizi sebagian anak turun. Akses serta layanan kesehatan untuk mereka juga mengalami penuruan.

Hal tersebut bukan cuma permasalahan lebih dari 80 juta (2018) anak Indonesia. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Anak (Unicef) menyebut ada sebanyak 2, 34 miliar anak serta remaja berusia kurang dari 18 tahun (99 persen) bertempat tinggal di negeri yang melaksanakan pembatasan akibat corona serta 1, 4 miliyar anak (60 persen) tinggal di negeri yang mempraktikkan karantina daerah.

“Ancaman hilangnya generasi terdapat di depan mata,” kata anggota Dewan Penyantun Ikatan Praktisi dan Pakar Demografi Indonesia yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Pendidikan Nasional (2010- 2011) Fasli Jalal di Jakarta, Selasa (9/6/2020).

Indikasi dari hilangnya generasi itu dapat dilihat dari meningkatnya kehamilan tidak diinginkan serta terbatasnya layanan pemeriksaan kehamilan. Hal tersebut menaikkan resiko lahirnya bayi prematur serta tengkes (stunting) semenjak janin yang dicirikan oleh berat lahir kurang dari 2. 500 gr serta panjang tubuh tidak mencapai 48 sentimeter.

Kondisi tersebut dapat ditekan bila orangtua memberikan air susu ibu (ASI) secara eksklusif pada 6 bulan awal. Tetapi, cakupan ASI eksklusif cuma 37, 3 persen (2018).

Pemberian asupan pengganti ASI yang pas dikala bayi berusia 7- 24 bulan juga penting buat menunjang perkembangan optimal otak. Tetapi tutupnya posyandu membuat data langsung pengasuhan bayi terputus.

Tetapi, tinggal di rumah saja juga dapat memberikan dampak positif. “Jalinan orangtua dengan anak dapat lebih baik serta lebih baik lagi bila orangtua mencari data pengasuhan di internet,” ucapnya.

Persoalannya, dampak positif tersebut tidak sepenuhnya dirasakan oleh anak. Sepanjang pandemi, banyak orangtua yang merasa tertekan oleh kondisi yang ada, mulai dari hilang ataupun berkurangnya pemasukan sampai meningkatnya beban kerja yang ditanggung.

Untuk anak usia sekolah, proses pendidikan berganti jadi daring. Itu berlaku dari pembelajaran anak usia dini (PAUD) sampai pendidikan tinggi. Repotnya, pengasuhan di PAUD perlu stimulasi khusus sampai seluruh aspek pada diri anak dapat berkembang, seperti : aspek fisik, kognitif, emosi, bahasa serta sosial. Tetapi terbatasnya keahlian orangtua menjadikan pendampingan yang dilakukan tidak maksimal.

“Hal tersebut dapat menurunkan kualitas stimulasi anak usia dini hingga pertumbuhan otak, emosional serta sosialnya tidak sesuai dengan harapan,” ucap Fasli.

Rentan

Di luar PAUD, belajar di rumah DAPAT memunculkan persoalan ketidaksetaraan serta ketidakadilan. Mereka yang sangat terdampak dari kebijakan ini adalah anak-anak dari kelompok rentan yang tidak dapat mengakses internet.

“Pendidikan daring dilakukan supaya hak belajar anak tidak terlanggar, tetapi terdapat persoalan proteksi serta keadilan yang wajib dicermati,” kata Direktur Pusat Kajian serta Advokasi Proteksi serta Mutu Hidup Anak (Puskapa) Universitas Indonesia Santi Kusumaningrum.

Melansir Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, lanjut Santi, terdapat 31,8 juta anak usia SD hingga SLTA di 15 provinsi dengan permasalahan positif Covid- 19 paling banyak. Tetapi, 19,4 juta anak atau sekitar 61 persennya tidak mempunyai akses internet di rumahnya.

Suasana itu membuat mereka tidak dapat menjalankan pendidikan daring sebagaimana yang dirasakan anak-anak seusianya. Kalaupun terdapat dispensasi yang membuat mereka seluruhnya naik kelas, mereka tetap tertinggal pelajaran yang membuat langkah mereka dalam meraih masa depan tidak sama.

Penutupan sekolah membuat kegiatan gerak serta interaksi sosial anak terbatas. Peluang mereka belajar sinyal sosial, semacam ekspresi wajah, juga turun. Tetapi ancaman kendala mental emosional semacam kesepian, tekanan pikiran sampai tekanan mental malah naik. Kesempatan buat memperoleh tubuh yang bugar juga menurun.

Di sisi lain, melemahnya ekonomi dapat merendahkan status gizi anak. Hal tersebut dikhawatirkan dapat melanggengkan serta memperburuk tengkes yang sebagian tahun terakhir mulai teratasi. Saat sebelum pandemi, prevalensi tengkes telah turun dari 30,8 persen (2018) jadi 27,67 persen (2019).

Disaat yang bersamaan, layanan kesehatan anak juga turun. Cakupan imunisasi dasar lengkap per April 2020 cuma 21,2 persen, bandingkan April 2019 sebesar 25,9 persen. Turunnya cakupan itu dapat menaikkan resiko kesehatan serta berkurangnya produktivitas anak di masa depan.

“Tanpa pandemi juga, Indonesia mengalami bermacam penyakit: diare, demam berdarah, difteri, tuberkulosis serta peradangan saluran respirasi kronis,” kata Santi.

Sebab dikala ini seluruh aktivitas bertumpu di rumah, hingga pembelajaran keluarga jadi berarti. Media massa dapat dimanfaatkan pemerintah guna menolong orangtua mempunyai pengetahuan pengasuhan yang lebih baik.

Struktur pemerintah yang ada di bawah, lanjut Fasli, seperti dukuh, dusun, rukun tetangga ataupun rukun warga dapat dimanfaatkan untuk membantu memetakan keadaan keluarga di wilayahnya. Dana desa dapat digunakan untuk membiayai program kesehatan serta pembelajaran anak hingga kualitas mereka tidak terlalu drastis penurunannya akibat pandemi.

Tidak hanya itu, lanjut Santi, inovasi layanan dasar butuh terus dicoba. Layanan dasar juga harus ditata lebih baik hingga dapat menjangkau anak-anak yang rentan, seperti anak jalanan, anak berkebutuhan khusus, serta anak di penjara dan di panti. Layanan yang tidak dapat dialihkan ke daring, semacam imunisasi, dapat dialihkan jadi layanan bergerak. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *