Bertemu Buang Susanto, S.Pd., Guru Paket Komplit

Buang Susanto

Buang Susanto

JEMBER, situstelanta.com – Hidup itu perjuangan. Kehidupan manusia tidak selalu dalam posisi bagus. Senantiasa di atas. Sering, bahkan, pada posisi di bawah. Justru itu letak keindahan sebuah kehidupan. Selalu dinamis.

Maka sikap kita hendaknya dengan berpikir positif. Selain itu, dibutuhkan kreativitas dan laku inovatif. Insya Allah, sikap demikian akan mengantarkan kita tetap eksis.

Semboyan hidup itu yang selalu disampaikan oleh Buang Susanto, S.Pd kepada murid-muridnya. Baik murid yang ingin meraih prestasi di bidang olahraga atau di bidang lainnya.

Pendek kata, dia selalu memacu dan memicu semangat para muridnya. Sehingga, apabila dalam meraih cita-cita namun belum berhasil, murid-muridnya tidak patah arang. Semboyan: hidup itu perjuangan selalu didengungkannya.

Sebagai guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) di SMAN Ambulu, dia tergolong guru serba bisa. Boleh dikata, paket komplit. Selain mumpuni pada beberapa cabang olahraga, ia sangat pede bernyanyi lagu-lagu campursari seraya berjoget. Suatu kelebihan yang jarang dimiliki oleh sebagian besar rekan guru lainnya.

Wong asli Ambulu yang lahir pada 23 September 1967 ini telah membuktikan bahwa dirinya mumpuni sebagai guru olahraga tersebut. “Saya menjadi wasit sepakbola dengan lisensi C2 (level provinsi). Hal itu saya lakoni sejak tahun 1994 sampai dengan tahun 2007,” terangnya. Apabila diminta oleh panitia kegiatan sebagai pembawa acara dalam event olahraga, dirinya selalu menjawab, siap.

Suami Rini Puji Lestari ini juga menyebutkan bahwa sudah puluhan murid diarahkan dan dibimbing dalam meraih sukses di bidang olahraga. Ada pula beberapa murid yang akan menembus tes masuk Akmil ( Akademi Militer) dan Scaba (Sekolah Calon Bintara).

“Mereka saya gembleng fisiknya lewat olahraga renang. Meski sekarang kolam renang yang saya desain berstandar nasional itu nganggur namun saya tetap bangga. Setidaknya, sarana olahraga ini telah membantu puluhan anak muda Ambulu dan sekitarnya mewujudkan mimpinya menjadi anggota TNI atau Polri,” kenangnya, bangga.

Niat dan keinginan mengolahragakan para siswa tidak surut ataupun berhenti. Saat anak muda milenial kurang greget berolahraga, termasuk berenang, ayah empat orang anak ini berpikir keras untuk menemukan ide baru.

Entah mendapat inspirasi dari mana, Pak Buang, sapaan akrabnya, mencanangkan gerakan bersepeda saat berangkat dan pulang sekolah. Saat itu tahun 2012. Gerakan itu belakangan dikenal dengan sebutan SMANA Bike School.

Maka sejak tahun 2012 para murid SMANA yang jarak rumah dengan sekolah maksimal 5 kilometer, diminta untuk naik sepeda setiap harinya. Program itu berlaku juga bagi siswa yang tempat tinggalnya jauh, radius lebih dari 5 kilometer.

Mereka itu diharapkan bersepeda sekali seminggu pada saat ada jam pelajaran olahraga. “Awalnya, ada orang tua murid yang komplain, namun setelah saya beri penjelasan, mereka bisa menerima program tersebut,” jelasnya.

Jauh sebelum tahun 2012, dirinya telah memberi contoh. Setiap hari, berangkat dan pulang mengajar selalu mengayuh sepeda, baik jenis Mount Tain Bike (MTB) maupun sepeda unto, alias sepeda kuno. Hingga kini, dirinya konsisten.

“Tidak hanya saat berdinas, dalam berbagai kegiatan keluar rumah, saya mengayuh sepeda. Alhamdulillah, ada dua guru SMANA yang mensuport

 kebiasan saya, yaitu bapak Drs. Suhartono dan bapak Drs. Putu Yogatama. Mereka juga bersepeda saat berdinas,” jlentrehnya.

Kebiasaan bersepeda tidak berhenti pada saat berdinas maupun pada saat keluar rumah untuk berbagai keperluan di sekitar Ambulu. Namun, sampai saat ini, sekurang-kurangnya, sudah 4 kali melakukan touring, yang menurut kebanyakan orang, tergolong kegiatan esktrem itu.

Pertama touring ke Jakarta pada awal tahun 2012. Rupanya, dia ingin menunjukkan bahwa touring jarak jauh dengan bersepeda bisa dilakukan. “Butuh waktu seminggu. Saat balik ke Ambulu, adik kandung memaksa untuk menumpang kereta. Dengan berbagai pertimbangan, saran itu saya terima,” ungkapnya seraya tersenyum.

Kemudian pada tahun 2014 kembali melakukan perjalanan jauh. Ambulu-Denpasar, Bali. Dibutuhkan waktu 2 hari berangkat dan 2 hari pulang. Sayangnya, hanya sehari di pulau Dewata itu.

Selanjutnya, pada tahun 2018 mengikuti upacara Peringatan Hari Guru di Sumenep, Madura. Tidak disebutkan butuh waktu berapa hari perjalanan berangkat-pulangnya. Yang jelas, dia menjadi perhatian khusus bagi Gubernur Jawa Timur dan Mentri Pendidikan saat itu.

Puncak touring ekstrem dilakoni pada tahun 2019. Diawali dari Ambulu, roda sepedanya menggelinding ke Lumajang. Lewat jalur selatan (Piket Nol), perjalanan dilanjutkan ke Malang. Dilanjutkan menuju kota Blitar, Tulungagung dan Trenggalek. Dari kota ini, lagi-lagi lewat jalur maut, (wilayah Panggul) dia menyinggahi kota Pacitan.

Dari sana terus melaju ke kota Ponorogo, Magetan dan Madiun. Setelah singgah di rumah seorang teman, dia meneruskan tuoringnya melewati kota Nganjuk, Jombang, Mojokerto (Mojosari), Pasuruan, Probolinggo, Lumajang dan sampai di Ambulu kembali.

Jamu Ambyar

Banyak orang yang penasaran mengenal Pak Buang, yang selalu fit dan prima. Apa rahasianya, kok staminanya stabil dan bagus. Setelah dikorek dia mengaku bahwa sejak kecil terbiasa minum jamu buatan ibunya. Jamu tradional dengan bahan empon-empon, seperti kunir, jahe, kencur dan lain- lain.

“Sekarang saya sudah berumur 53 tahun. Pengalaman banyak teman yang telah memasuki usia 40 tahun, biasanya mengalami sakit linu. Hal itu wajar karena peredaran darah tidak lancar disebabkan oleh pembuluh darah yang tersumbat oleh berbagai sampah dari sisa makanan. Nah, untuk membersihkan pembuluh darah yang kotor, perlu digelontor dengan jamu, “ terangnya.

Saat ini, bukan lagi ibunya yang membuat jamu tradisional itu. Tapi, istrinya bersama anggota keluarga lainnya. Jamu yang diproduksi secara home industri itu tidak dikonsumsi sendiri. “Namun, saya pasarkan kepada anggota klub sepeda touring dan rekan-rekan yang tinggal di Jember, Wuluhan, Balung, Rambipuji, Tanggul dan Sumberbaru.

Jamu warisan leluhur itu pun sekarang diproduksi setiap seminggu dua kali, masing-masing 100 botol. “Ada 5 jenis jamu yang saya produksi. Saya kemas bagus, dalam botol 600 ml. Uniknya, jamu yang saya labeli Jamu Ambyar itu, awalnya dipromosikan oleh istri saya saat mengikuti Gerak Jalan Tradisional Watu Ulo-Ambulu (Watam) 2019 lalu. Sambil berjalan, istri saya menggendong keranjang berisi jamu racikannya sendiri untuk dibagi-bagikan gratis kepada sebagian peserta dan warga masyarakat,” pungkasnya, lagi-lagi dengan senyum lebar. (sr)

3 thoughts on “Bertemu Buang Susanto, S.Pd., Guru Paket Komplit

  1. Pak Buang, menurut saya, adalah contoh guru yang merdeka menjadi diri sendiri. Harapan saya lebih banyak guru yang menyadari potensi dirinya, sehingga mampu menjadi guru yang selalu menjadi fasilitator bagi murid -muridnya. Bukan guru yang memberi template pada siswanya sehingga lebih banyak siswa Indonesia yang berkembang menjadi pribadi mandir I.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *