Bincang dengan H. Djoko Susanto, S.H., M.H. (bag.1): “Jadikan Sektor Pertanian sebagai Lokomotif Perekonomian di Jember”

Djoko Susanto

Djoko Susanto

“Daripada SILPA tidak terserap, duit dibalekke, mending kan dibagikan ke setiap dusun agar diberdayakan untuk pembangunan di wilayahnya masing-masing. Itu saja isih ana susuke.”

JEMBER, situstalenta.com – “Santun, Ngayomi, Ora Ngapusi” tagline itulah yang dibaca oleh masyarakat pada baliho-baliho kampanye Calon Bupati Jember H. Djoko Susanto, S.H., M.H. dan tagline itu pula yang kami rasakan saat berbincang-bincang dengannya.

Kesan “santun” kami tangkap dari caranya berbicara yang kerapkali menggunakan idiom-idiom bahasa Jawa untuk memberi kesan halus dari kalimat yang disampaikan, serta berusaha untuk tidak menghakimi dan menyalahkan siapapun termasuk pemerintah daerah saat berbicara tentang berbagai ketimpangan yang masih terjadi di Jember, walaupun itu terkait dengan policy. Ibarat pepatah Jawa, ingin “menang  tanpa ngasorake”.

Kesan “ngayomi” kami lihat disepanjang perbincangan yang kami lakukan di tiga tempat yaitu di Rumah Pemenangan yang ada Sumbersari, di Warung Sate Pak Toha yang ada di Mangli dan di Cafe Djhoss Sitinggil yang ada Barat R.S. Dr. Soebandi.

Ketika itu kami lihat cukup banyak warga utamanya dari kalangan masyarakat bawah yang menemuinya langsung untuk mengadu dan dengan bijak suami dari Hj. Erlinawati ini memberikan saran dan petuah yang membuat dingin siapapun yang mendengarnya.

Sedang kesan “Ora Ngapusi” kami rasakan dari ketulusannya untuk mendharmabaktikan sisa hidupnya bagi kemaslahatan masyarakat banyak utamanya bagi warga Jember.

“Manusia baru bisa dikatakan mulia saat dia bisa memberikan kontribusi kepada pihak lain. Jika pemuliaan dilakukan dalam kapasitas pribadi-pribadi, ya olehe kemuliaan tadi sifatnya personal, mung siji-loro. Berbeda dengan proses politik, akan dapat menghasilkan kemuliaan yang bersifat komunal, sifatnya lebih besar, yaitu dapat memuliakan masyarakat. Tentunya urusan kemuliaan tadi tidak ujug-ujug hadir pada diri saya. Kehadirannya diawali dari dorongan banyak pihak: tokoh masyarakat, kyai-kyai, habaib-habaib, termasuk teman-teman  yang biasa jagongan, rokokan karo aku pun juga mendorong dan memotivasi hal itu,” papar Doko Susanto panjang lebar.

Dia ceritakan kalau dirinya belum lama pensiun, tapatnya pada tahun 2018 yang lalu. Dia juga baru saja dikaruniai cucu.

Sing jenenge wong pensiun iku, mangan kan gak perlu nyambut gawe. Wong nek wis mangan gak perlu nyambut gawe kan kepenak. Kedua saya baru dikaruniai cucu. Cucu itu kan puncak kenikmatan manusia, puncak kebahagiaan manusia. Sampai banyak yang cerita bahwa yang namanya kakek itu tidak bisa bicara tidak dengan cucu. Berarti itu karuniai tertinggi dalam kehidupan itu kan cucu. Kesimpulannya adalah saya ini sedang pada posisi puncak kebahagiaan sebagai manusia. Wis ning puncak bahagia kok isih gelem nyalon?. Ini urusannya bukan urusan bahagia, tapi ini urusan pemuliaan,” kata Djoko tentang salah satu alasan yang mendorong dirinya untuk maju dalam kontestasi Pemilihan Bupati.

“Secara pribadi saya tidak punya alasan kecewa (terhadap pemerintahan) karena hidup saya  sudah di luar pemerintahan, tidak terpengaruh dengan kebijakan pemerintah, lha aku wis pensiun. Mangan wis ora perlu nyambut gawe, kok. Makanya itu tadi, alasan pertama adalah dorongan dan motivasi dari banyak pihak, kedua, fakta di lapangan terkait banyaknya keluhan yang saya dengar, salah satunya tentang susahnya golek gawean. Golek gawean ae angel apa maneh golek dhuwit. Dan yang ketiga saya lama di Jember. Saya terlibat dalam jangka yang panjang terkait dengan pengelolaan Jember. Hal itu membuat saya tahu bahwa banyak potensi Jember yang bisa kita kelola dengan baik untuk mensejahterakan masyarakat Jember.”

Saat ditanya, apakah pemerintah ikut andil terkait sempitnya lowongan kerja dan sulitnya mencari pekerjaan yang berdampak pada sulitnya perekonomian? Dengan santun Djoko menjawab.

“Saya sedang tidak ingin menilai pihak lain. Saya sebatas melihat ada potensi dan ada keluhan masyarakaat. Berarti ada potensi yang selama ini diabaikan dan perlu dikelola dengan lebih baik agar bisa menjadi solusi yang dapat menjawab keluhan masyarakat. Apakah pemerintahan hari ini bekerja dengan baik atau tidak? Satu saya tidak punya kapasitas untuk menilai. Saya juga tidak cukup informasi untuk menilai pihak lain dalam hal ini pemerintah kabupaten Jember.”

Bicara Program

Salah satu dari sembilan Program Unggulan yang diusung Djoko Susanto dan bisa dibaca langsung oleh masyarakat karena tertulis pada banner dan baliho yang tertempel di berbagai tempat di seluruh wilayah kabupaten Jember adalah “Alokasi anggaran sebesar Rp.300 juta – Rp.500 juta perdusun pertahun”.

Pertanyaannya; apakah program tersebut hanya sekedar janji untuk menarik simpati masyarakat atau program realistis yang kelak dapat diwujudkan? Jika program realistis dan dapat diwujudkan, lantas sumber dananya darimana?

“Dua pertiga usia saya habis di birokrasi, sehingga saya tahu, saya paham bagaimana birokrasi itu bisa bekerja dengan baik. Berangkat dari situlah saya menelurkan konsep tentang program alokasi anggaran Rp.300 juta – Rp.500 juta perdusun pertahun. Tentu saja hal tersebut sudah melalui sebuah diskusi, sebuah kajian,” kata Djoko.

Lebih jauh laki-laki yang lahir di Lirboyo Kediri, 25 Maret 1960 ini memberikan ilustrasi sederhana. Menurutnya, tahun ini anggaran untuk Jember yang tidak terserap sekitar Rp.800 milyar lebih.

Dengan menghitung dana yang tidak terserap tersebut kemudian membaginya dengan jumlah dusun yang ada yaitu 900 lebih atau kurang dari 1000 dusun, maka dana yang tidak terserap tersebut sudah lebih dari cukup untuk dibagikan ke setiap dusun, masing-masing sejumlah Rp.500 juta. Itupun masih ada sisanya.

“Daripada SILPA tidak terserap, duit dibalekke, mending kan dibagikan ke setiap dusun agar diberdayakan untuk pembangunan di wilayahnya masing-masing. Itu saja isih ana susuke,” kata Djoko. “Lantas, sumber anggaran program darimana? Ya tetap dari APBD. APBD ini kan tidak berhenti di APBD. APBD sing di-dok itu kan APBD baku sebenarnya. Tapi kita masih bisa ikhtiar. Golek program dari pusat untuk kita tarik ke sini. Itu kan juga sudah tambahan.”

Ditambahkan oleh Djoko bahwa APBD sebenarnya lebih bersifat stimulant. “Jadi APBD itu tidak bisa dipakai untuk menyejahterakan masyarakat. Ora iso. Tidak cukup Rp.2,5 trilliun untuk nguripi masyarakat Jember. Kenapa saya katakan Rp.2,5 trilliun dan tidak Rp.4 trilliun sekian, karena yang Rp.1,5 – Rp.2 trilliun itu kan habis untuk bayar pegawai, sementara yang tersisa untuk belanja pembangunan hanya sekitar Rp.2,5 trilliun saja. Apakah 2,5 trilliun itu bisa menyejahterkan masyarakat Jember? Ra iso. Masyarakat Jember sekarang jumlahnya sekitar 2,5 juta. Kalau Rp.2,5 trilliun dibagi 2,5 juta, maka masing-masing orang jatahnya hanya Rp.1 juta. Bisa kamu hidup satu tahun dengan uang 1 juta? Artinya APBD itu sifatnya stimulant saja dan yang bisa menyejahterakan masyarakat ya masyarakat itu sendiri dengan diungkit APBD.”

Selain berbicara tentang dana APBD, Djoko Susanto juga menjelaskan tentang potensi besar yang dimiliki kabupaten Jember untuk dapat mengangkat perekonomian masyarakat. Potensi besar tersebut adalah sektor pertanian.

Dia ceritakan, bagaimana dulu para petani ketika panen tembakau, saat masuk ke toko tidak pernah menawar kalau membeli apapun bahkan membeli almari es hanya dipakai untuk almari baju.

Dengan berkaca pada masa lalu saat para petani berada pada puncak kejayaannya, Djoko menilai bahwa sektor pertanian memiliki peranan penting dalam menyejahterakan masyarakat.

Selain itu, dengan melihat banyaknya perkebunan yang ada di Jember, tentunya hal tersebut sudah melalui sebuah kajian yang panjang dan mendalam. “Landa biyen kuwi membuka kebun ning kene. Berarti kan tanah di Jember subur. Dengan melihat hal itu saja, seharusnya kita bisa menarik kesimpulan bahwa sektor pertanian seharusnya kita tempatkan sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi di Jember,” ungkap Djoko.

“Apakah selama ini sektor pertanian belum jadi lokomotif dan masih jadi gerbong?” pertanyaan tersebut spontan terlontar dari mulut kami.

“Terserah sampean menilai. Aku moh, aku ora arep melu-melu menilai. Intine,  sektor pertanian di Jember itu layak dan harus menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi di Jember. Karena tanah di Jember ini subur, maka harus dikelola dengan baik,” papar Djoko Susanto. (Maji/Agus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *