Bincang dengan H. Djoko Susanto, S.H., M.H. (bag.2): Konsep Memajukan Sektor Pertanian di Kabupaten Jember

H. Djoko Susanto, S.H., M.H.

H. Djoko Susanto, S.H., M.H.

Memecahkan persoalan di sektor pertanian bukan hal yang sulit, sepanjang memiliki konsep yang jelas.

JEMBER, situstalenta.com – Belum genap setengah jam perbincangan kami dengan Calon Bupati Jember H. Djoko Susanto, S.H., M.H. di rumah pemenangan yang ada di Sumbersari terpaksa harus dipenggal, karena yang bersangkutan masih belum makan siang.

Maklum, sebelum kami datang memang sempat ada acara rapat koordinasi dengan seluruh tim sukses yang ada di setiap kecamatan. Untuk itulah Cabup ini mengajak kami makan siang.

H. Djoko Susanto, S.H., M.H.

Merasa pekewuh, semula ajakan tersebut kami tolak. Namun karena terus dipaksa, akhirnya perbincanganpun berlanjut sambil makan siang di Warung Sate Pak Toha yang ada di Mangli sebelum berlanjut ke Cafe Djoss di Sitinggil yang ada di Barat R.S. Dr. Soebandi.

Masih melanjutkan perbincangan sebelumnya, materi yang kami bicarakan seputar sektor pertanian yang kini semakin ditinggalkan. Para petani banyak yang beralih profesi, karena memandang profesi sebagai petani sudah tidak lagi menjanjikan.

Faktor penyebabnya sangat kompleks mulai dari sulit dan mahalnya harga pupuk, harga jual hasil pertanian yang tidak menentu bahkan seringkali rendah, serta berbagai faktor yang lain.

Konsep untuk memajukan sektor pertanian di kabupaten Jember ini rupanya dikuasai benar oleh Djoko Susanto, dan dengan detail dia paparkan konsep tersebut meski tidak semuanya dia kupas.

“Kalau sampean bicara  pupuk itu sama saja dengan bicara teknis. Urusan teknis itu urusan yang gampang. Jika kurang pupuk, kenapa kita tidak minta kuota lebih? Kalau memang kuota tidak ada, kenapa APBD tidak diarahkan utk pemenuhan pupuk. Begitu juga masalah air, jika air kurang, masalahnya apa? Irigasinya atau sumbernya? Kalau irigasinya yang jelek ya kita gawekne. Kalau sumber airnya yang tidak ada, ya kita buatkan embung-embung atau danau-danau buatan sebagai tandon air sehingga waktu hujan banyu tidak mlayu ning segara kabeh, tapi ada yang tersimpan sebagai cadangan kebutuhan pertanian,” terang Bapak dari 3 orang anak ini.

Menurut Djoko, memecahkan persoalan pertanian dari sisi teknis bukan hal yang sulit. Itu sebabnya persoalan teknis bukan masalah urgen yang perlu dibicarakan, karena ada yang jauh lebih penting, yaitu konsep.

Itu sebabnya untuk dapat menjadikan sektor pertanian sebagai lokomotif penggerak perekonomian di Jember dibutuhkan orang-orang yang memiliki konsep yang jelas tentang bagaimana memaksimal potensi lahan dan sumber daya manusia dalam hal ini para petani.

“Makanya penataan birokrasi harus selesai di awal. Karena birokrasi itu penggerak pembangunan. Kembali kalau bicara pertanian itu tadi, duwe konsep apa ora? Misalkan soal pupuk, apakah dengan terpenuhinya pupuk permasalahan sudah selesai dan petani bisa sejahtera? Kan tidak. Jadi harus ada konsep yang mendasar,” tegas Djoko.

Lebih lanjut Pendiri sekaligus Ketua Dewan Masjid ”Yayasan Masjid Al-Istiqomah” yang aktif dalam kegiatan keagamaan dan bantuan yatim piatu ini menuturkan tentang salah satu konsep untuk menjadikan sektor pertanian sebagai lokomotif perekonomian di Kabupaten Jember.

Menurutnya, salah satu konsep untuk mendongkrak sektor pertanian adalah dengan memetakan tingkat kesuburan tanah pada masing-masing daerah/kecamatan yang ada di Kabupaten Jember. Contohnya untuk Kecamatan Ambulu tingkat kesuburannya bagaimana dan cocok untuk komoditas apa, Kecamatan Tanggul seberapa subur tanahnya dan tanaman apa yang paling cocok ditanam disana, dan seterusnya.

“Jika komoditas yang ditanam masyarakat sesuai dengan tingkat kesuburan tanah, maka keuntungan pertama yang diperoleh adalah biaya produksi yang rendah, karena tanah yang subur tidak membutuhkan pupuk yang banyak. Kedua, jika komoditas yang ditanam sesuai dengan tingkat kesuburan tanah, maka hasil produksi atau hasil panen hampir bisa dipastikan akan bagus, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas,” terang Djoko.

Selain dua keuntungan tersebut, ada lagi keuntungan lain yang menyertai dengan diterapkannya konsep zonasi atau konsep pemetaan tingkat kesuburan tanah yaitu terciptanya “One Village One Product” atau “Satu Wilayah Satu Produk”.

“Hasil akhirnya apa? Secara akumulatif tidak ada panenan yang berlebih, tapi secara personal kebutuhan setiap individu akan sebuah komoditas dapat terpenuhi bahkan berlebih karena didukung kuantitas. Jika secara akumulatif hasil panenan tidak berlebih maka akan terjaga keseimbangan antara hasil panen dan kebutuhan. Kalau hasil panen dan kebutuhan atau  demand dan supplynya ada keseimbangan, kira-kira regane piye? Harganya tentunya akan menguntungkan para petani, uripe petani bakal sejahtera,” papar Djoko panjang lebar.

Dengan konsep tersebut setidaknya ada 4 poin yang bisa diperoleh, yaitu: biaya produksi rendah, hasil panen yang bagus, harga jual hasil panen yang menguntungkan dan kehidupan petani yang sejahtera. (Maji/Agus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *