Bincang dengan Hendy Siswanto (bag.1): “Jika Tata Kelola Pemerintahan Seperti sekarang, Jember Sebaiknya Tidak Perlu Ada!”

H.Hendy Siswanto

H.Hendy Siswanto

“Kondisi Jember sudah sangat memprihatinkan dan akan berisiko tinggi jika 5 tahun kemudian  masih tetap seperti ini!”

JEMBER, situstalenta.com – Ditemui di Posko Pemenangan yang berlokasi di JL. Manyar, Slawu, Patrang, Jember, salah satu pertanyaan yang sudah tidak sabar untuk segera kami lontarkan kepada salah satu calon bupati Jember, H. Hendy Siswanto adalah: apa yang melatarbelakanginya untuk maju sebagai calon bupati Jember?

 “Saya tergerak untuk mencalonkan sebagai Bupati, latar belakangnya sederhana.  Latarbelakangnya karena saya tidak ingin jadi Bupati dan saya tidak punya cita-cita menjadi  bupati. Jadi, kalau saja pemerintah daerah kabupaten Jember melaksanakan roda pemerintahan dengan normal-normal saja, saya tidak ingin mencalonkan sebagai bupati,” kata Hendy.

Laki-laki berusia 58 tahun ini menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya sudah ditawari untuk mencalonkan diri sebagai calon bupati Jember sebelum Bupati Jember dijabat oleh Drs.H.  Syamsul Hadi Siswoyo, M.Si.

Namun tawaran tersebut dia tolak karena dia memang tidak memiliki keinginan apalagi niat untuk menjadi Bupati. Karena menjadi bupati menurutnya memiliki tanggung jawab yang besar, dunia –akhirat.

Tapi, karena melihat kondisi pemerintahan kabupaten Jember yang semakin memprihatinkan, Hendy tergerak untuk mendharmabaktikan tenaga dan pikirannya bagi masyarakat Jember.

“Kondisi Jember sudah sangat memprihatinkan dan akan berisiko tinggi jika 5 tahun kemudian  masih tetap seperti ini!” ungkap Hendy. “Namanya pemerintah daerah sudah pasti ada positif dan negatifnya, ada kurang dan lebihnya. Itu sudah biasa dan kita sebagai rakyat wajib melengkapi. Tapi itu kalau pemerintahan berjalan dengan normal. Persoalannya, Jember sudah jauh dari kata normal.”

Melihat kondisi Jember saat ini, Hendy merasa sangat prihatin karena jika cara mengelola pemerintahan seperti yang ada sekarang masih tetap dilanjutkan, maka kedepan akan  berdampak tidak baik bagi masyarakat.

“Jadi karena saya merasa asli dari Jember, saya lahir di Jember dan ari-ari saya juga ditanam di Jember, saya sangat terpanggil melihat kondisi Jember seperti ini, terutama dalam hal mengatur tata kelola pemerintahan,” tegas Hendy.

Menurutnya, jika tata kelola Pemerintahan Kabupaten Jember masih tetap seperti sekarang ini, maka Jember sebaiknya tidak perlu ada, karena hanya menjadi beban bagi pemerintah pusat. Wilayah Jember lebih baik dibagi-bagikan ke kabupaten tetangga yaitu Banyuwangi, Bondowoso dan Lumajang.

Ketidakberesan Pemkab Jember dalam mengelola pemerintahan, oleh Hendy salah satunya dicontohkan dari sisi cara mengelola keuangan, Menurutnya, APBD adalah daya ungkit ekonomi yang merupakan modal awal sekaligus modal utama untuk membiayai pembangunan.

APBD memang bukan segala-galanya, tapi dari APABDlah perekonomian bisa diungkit.  Sebab rencana sehebat apapun akan menjadi percuma jika tidak dilaksanakan. Dan untuk melaksanakan butuh anggaran.

“Kita kan bukan di dunia mimpi. Ini di dunia, bukan di akhirat. Kita hidup nyata jadi perlu melakukan suatu kegiatan yang nyata. Dan untuk melakukan kegiatan nyata butuh modal awal yaitu APBD,” ungkap Hendy.

Contoh lain yang membuat Hendy merasa prihatin adalah dikembalikannya SILPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan).

“Sekarang SILPA dikembalikan. katanya efisiensi. Itu salah besar, karena itu hak masyarakat. SILPA kalau bisa dibesarkan lagi dari APBD. Jangan sampai ada SILPA yang tersisa, bila perlu harus nol karena itu hak rakyat untuk perencanaan pembangunan. Daya ungkit ekonomi dari situ. Dengan dikembalikannya SILPA yang nilainya trilliunan tersebut dampaknya tidak baik bagi perekonomian kita,” terang Hendy.

“Kok saya tahu? saya mantan birokrat di pusat. Saya pernah belajar di Bappenas tentang perencanaan nasional. Saya pernah merencanakan pembangunan Nasional di Indonesia. Saya punya karya juga disitu meskipun kecil. Jadi saya ngerti arti perencanaan, arti penggunaan APBN maupun APBD,” kata Hendy Siswanto. (Maji/Agus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *