Bincang dengan Hendy Siswanto (bag.2): “Bagaimana Mau Jadi Pemimpin Kalau Mengatur Rumah Tangga Sendiri Saja Tidak Bisa!”

Hendy Siswanto

Hendy Siswanto

Jika hubungan Bupati dengan DPRD tidak harmonis, maka masyarakatlah yang menjadi korban!

JEMBER, situstalenta.com – Ruangan yang sejuk ditambah camilan yang tersaji di atas meja membuat perbincangan kami dengan Hendy Siswanto berjalan dengan santai. Terlebih penjelasannya disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami sambil sesekali diselingi joke-joke ringan.

Satu lagi yang membuat penjelasan dari calon bupati Jember ini mudah dimengerti karena setiap kali menjelaskan persoalan yang sulit selalu diiringi dengan perumpamaan-perumpamaan.

Salah satunya ketika melontarkan pendapat terkait hubungan panas antara Pemerintah Daerah dengan DPRD yang sudah berjalan sejak diawal pemerintahan hingga menjelang dilangsungkannya Pemilihan Bupati atau hampir lima tahun berjalan.

“Berbicara tentang tanggung, semua orang punya tanggung jawab. Bukan hanya bupati, saya juga punya tanggung jawab terhadap keluarga saya sendiri, saya punya tanggung jawab pada  staff dan pegawai saya yang jumlahnya sekitar 500 orang. Bagaimana mungkin saya bisa  memimpin anak buah kalau keluarga saya sendiri berantakan. Bagaimana mau jadi pemimpin kalau mengatur rumah tangga sendiri saja tidak bisa!” ungkap Hendy.

Kata rumah tangga yang dimaksudkan Hendy adalah pemerintahan kabupaten Jember dalam arti menyeluruh yaitu eksekutif dan legislastif serta masyarakat Jember secara keseluruhan.

“Bupati itu saya ibaratkan suami dan DPRD itu istri. Semestinya hubungan antara suami dan istri atau antara Bupati dengan DPRD itu terjalin harmonis. Jika hubungan suami istri tidak harmonis, maka yang menjadi korban adalah anak-anaknya, baik anak kandung yaitu ASN dan GTT/PTT maupun anak tiri seperti kita-kita ini. Belum lagi dampak buruk terhadap sistem yang ada di bawahnya,” terang Hendy.

Dampak buruk lain yang bisa timbul dari ketidakharmonisan hubungan antara bupati dengan DPRD menurut suami dari Hj. Kasih Fajarini ini adalah mandegnya roda pembangunan disebabkan terhambatnya alokasi anggaran dari pemerintah pusat dan provinsi maupun dari para investor.

Lebih jauh Hendy menjelaskan bahwa Jember sebenarnya memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan guna kemakmuran masyarakat. Dia merasa yakin jika potensi yang dimiliki Jember dikelola dengan baik, tidak butuh waktu lama untuk dapat membuat masyarakat Jember hidup sejahtera.

“Kenapa demikian? Bayangkan saja, di Jember ini banyak orang-orang pintar. Jagoan-jagoan enterpreneur yang ada di Jember, jumlahnya tidak karuan banyaknya. Kita juga punya profesor-profesor hebat di perguruan tinggi. Banyak orang yang tahu dan mampu mengelola pertanian dengan baik, mengelola pariwisata dengan baik. Dan lahan pertanian untuk dikelola sudah tersedia, begitu juga dengan objek wisata,” kata Hendy.

Persoalannya, potensi yang besar tersebut belum diberdayakan dengan baik dan belum dikelola secara maksimal. Perguruan Tinggi yang merupakan aset hanya berkutat dengan aktifitas belajar-mengajar. Begitu juga dengan Pondok Pesantren, hanya disibukkan dengan urusan mengajar ngaji para santrinya.

Padahal, menurut Hendy, Perguruan Tinggi dan Pondok Pesantren serta berbagai unsur lain yang ada dimasyarakat harus diberdayakan dan disinergikan untuk membantu pemerintah dan menjadi server atau pelayan bagi masyarakat.

Begitu juga dengan anggota DPRD. Dalam pandangan ayah dari lima anak ini, tidak seharusnya anggota DPRD hanya duduk-duduk saja di kantor. Idealnya, dalam setahun anggota DPRD cukup tiga bulan saja duduk di kantor. Selebihnya, jalan-jalan untuk menengok konstituennya serta mencari dana untuk membantu Pemerintah Daerah dalam menjalankan roda pembangunan.

“Mencari duit kemana? Ya, ke teman-teman anggota DPR yang ada di pusat sana atau ke anggota DPRD provinsi atau mencari investor agar menanamkan modalnya di Jember. Nggak harus selalu dalam bentuk uang. Dalam bentuk pembangunan pun juga tidak apa-apa. Karena uangnya toh akan muter di sini, atau setidaknya kita bisa memperoleh pajaknya,” terang Hendy.

Untuk bisa memperoleh dana serta mendatangkan investor itulah butuh sinergitas antara Bupati dengan DPRD. Jika hubungan bupati dengan DPRD sudah penuh dengan konflik, bagaimana mungkin akan memperoleh dana dalam jumlah besar dari pemerintah pusat dan provinsi, bagaimana mungkin akan dapat mendatangkan investor? (Maji/Agus)

1 thought on “Bincang dengan Hendy Siswanto (bag.2): “Bagaimana Mau Jadi Pemimpin Kalau Mengatur Rumah Tangga Sendiri Saja Tidak Bisa!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *