Erwina Mawarni, S.Pd., Mamanya Anak Marching Band

Erwina Mawarni bersama anak didiknya

Erwina Mawarni bersama anak didiknya

JEMBER, situstalenta.com – “Tik-tok..tik-tok…tik-tok….” suara tetes-tetes hujan menerpa dedaunan dan apa saja yang ada di muka bumi. Angin berhembus sepoi-sepoi. Dingin. “Terus semangat….semangat….” ujar Erwina Mawarni, S.Pd. selaku pembina Bima Marching Band.

Ia mengikuti langkah anak-anak yang lagi actiondi sepanjang jalan desa. Sore itu pasukan marching band sedang menerima job di sebuah pondok pesantren. Kiai, pengurus dan santri akan mengadakan kegiatan peringatan hari besar keagamaan. Bima Marching Band diminta menghibur warga dan santri di sekitar pondok.

Mendapat support demikian, anak-anak marching tidak kendor semangatnya. Mereka terus mengalunkan nada lagu yang sedang hits. Masyarakat setempat menyambut antusias. Ratusan penonton dewasa berteduh di terasrumah masing-masing. Anak-anak mereka berdiri berjejer di tepi jalan dengan raut muka ceria. Dan…Mama Erwin sapaan akrab Erwina Mawarni, S.Pd itu pun, ikutan berjalan di bawah guyuran hujan.

Erwina Mawarni

Pengampu mata pelajaran matematika di SMA BIMA ini sudah 10 tahun menjadi pembina Bima Marching Band. “ Ya…itu sepenggal kisah saya momong anak-anak marching. Sejak tahun 2010  saya menjadi mama bagi mereka. Yang jelas, setiap tahun ada dinamika karena anggota lama yang lulus meninggalkan almamater dan digantikan anggota yunior,” jelasnya.

Dalam kesehariannya, Mama Erwin, berinteraksi dengan murid-muridnya layaknya seorang ibu dengan anak kandung. Hubungan yang sedemikian dekat itu menguntungkan bagi semua pihak. Pembina merasa tugasnya lebih ringan karena sehati dengan anggota. Sebaliknya, sebagian anggota menjadikan Mama Erwin sebagai sahabat yang enak untuk diajak ngobrol seputar masalah ABG.

“Kalau saya perhatikan, mereka memang butuh perhatian. Ada yang ngalem karena di rumah jarang mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya. Ada juga yang penginnya disanjung melulu. Yang ndableg juga ada. Yang model begini, nih, harus dihadapi dengan tegas,” ungkap penggemar tahu campur ini sambil mengembangkan senyumnya.

Tak terasa, sudah satu dasawarsa Mama Erwin menjadi pembina marching. “Suka dukanya banyak banget. Faktor nonteknis juga sering bikin ribet. Misalnya, tempat menyimpan peralatan yang kurang memadai, baju seragam yang belum komplit, padahal kegiatan kurang sehari. Di tambah lagi, ada anggota yang lelet saat latihan. Namun, semua itu bagai awan tersapu angin. Hilang begitu anak-anak bermain kompak dan penuh semangat,” kenangnya pula.

Selama 10 tahun itu pula ada belasan anggota yang benar-benar menjalin hubungan sebagai layaknya keluarga. Sehingga, Mama Erwin tidak saja menjadi ibunya Ersa Dhemas Maheswara, Ghany Abdillah Ersa, Ersa Dhiani Mahayu dan Ghana Nabila Ersa. Tapi, menjadi mamanya belasan alumni yang mengaku sebagai anaknya itu. Tak mengherankan jika sampai saat ini mereka tetap curhatdi tengah kesibukannya sebagai mahasiswa atau karyawan di tempat yang jauh.

Di antara merekayang nurut dan manut dalam menemukan masa depannya ialah Teguh, Divi, dan Ardi, untuk menyebut beberapa nama. Teguh terus mengabdi di almamaternya, SMA BIMA sambil kuliah, mendalang dan membina seni hadrah.

Sedangkan Divi menjadi asisten pelatih dan petugas perpustakaan. Setelah tiga tahun mengabdikan diri, gadis mungil ini  berhasil menjadi ASN di Kejaksaan Negeri Kotamadya Banjar Baru, Kalimantan Selatan. Sedangkan Ardi menggantikan posisi Divi sebagai staf di bagian perpustakaan sambil mengembangkan bakat musiknya.

Hubungan mama-anak yang sedemikian kental itu pula yang menjadikan bendera Bima Marching Band berkibar gagah. Dua kali menyabet tropy kejuaraan sebagai pemenang kedua dalam eventlomba Marchingse eks-karesidenan Besuki dan Lumajang.

Selain itu, dipercaya bupati Jember untuk tampil di alun -alun Jember dalam rangka Gebyar Kemerdekaan. Pernah juga terlibat dalam memeriahkan acara Petik Laut yang diprakarsai oleh Dinas Pariwisata.

Secara rutin menjadi pengiring pengibaran bendera merah putih pada upacara Hari Kemerdekaan RI, Hari Guru, Hari Pahlawan di kecamatan Ambulu. Event karnaval pun menjadi ajang unjuk kebolehan Bima Marching Band. Selain itu, sudah tak terhitung banyaknya, menghibur masyarakat di kawasan Jember pada momen peringatan hari-hari besar keagamaan.

Kelas Unggulan

Alumni Universitas Muhammadiyah Malang ( UMM ) tahun 1994 ini mula-mula menjadi guru di SMP Muhammadiyah 15 Ambulu pada tahun 1995. Dua tahun berikutnya, tahun 1997, menjadi guru di SMA BIMA. Sebelas tahun kemudian, tahun 2008, menjabat sebagai staf Kesiswaan.

Kiprah Mama Erwin tidak sedikit selama ngurusi OSIS. Setiap tahun terlibat langsung dalam pemilihan ketua dan pengurus OSIS, pengembangan ekskul, lomba antar sekolah baik di wilayah Ambulu, Jember, bahkan Surabaya dan Ponorogo. Ketua Nasyi’atul Aisyiah (NA) Kabupaten Jember masa bhakti 2008-2012 ini juga meng-up-grade sanggar belajar.

Beban sebagai staf Kesiswaan yang penuh dinamika ditinggalkannya. Mama Erwin bukannya santai, hanya mengajar ansich, tapi di pundaknya memikul tugas yang lebih berat, sebagai Waka Kurikulum. Tanggung jawab berat itu mulai dijalaninya pada tahun pelajaran 2018-2019.

Ada 30 kelas yang butuh penanganan KBM yang bagus. Ada 1000 lebih murid. Ada perubahan sistem pelaporan administrasi dengan memanfaatkan IT. Ujian Sekolah dan Ujian Nadional secara online. “Wooow, seru pendeknya,” tutur Sekretaris NA Cabang Ambulu dan anggota Majelis Kader Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jember ini.

Di sela kesibukannya yang nyaris tak henti karena tugas datang silih berganti itu, Mama Erwin masih mampu mencanangkan program kelas unggulan untuk program IPA dan IPS. Selama dua tahun pelajaran, program itu berdampak positif. Sebagian murid program  unggulan diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Adapun mereka yang  tidak diterima di PTN, berhasil melanjutkan study di PTS ternama. Sebagian murid yang lain, memang berketetapan hati untuk bekerja.

Kepada orang tua murid, Mama Erwin yang punya semboyan Ora et Labora itu berpesan kepada semua orang tua murid agar memberikan kepercayaan kepada putra-putrinya dalam menimba ilmu. Selain itu, diharapkan pula untuk memberikan pelatihan hidup mandiri. “Gakusum, sudah SMA kok masih cengeng,” pesannya tandas.

Satu lagi pesan pemilik hobby jalan-jalan yang juga pernah mengikuti pelatihan MC di bawah pelatih mbak Nana dari RRI Jember inikepada murid-murid SMA BIMA. “Manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk menimba ilmu. Ada pula kata bijak yang dia titipkan, yaitu: Lebih Baik Diam Tanpa Berkata Apa-Apa daripada Berbicara Tanpa Makna, pungkas ibu guru kelahiran Jember, 21 Maret 1971 ini begitu serius. (sr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *