22/10/2021

Imam Syafii, Motor Penggerak Usaha Batik di Ambulu

Imam Syafii bersama Istri

Imam Syafii bersama Istri

Dia tidak hanya memberi motif dan warna pada batik-batik yang diproduksinya, tapi juga memberi motif dan warna pada perkembangan industri batik di wilayah kecamatan Ambulu.

JEMBER, situstalenta.com – Imam Syafii boleh dibilang merupakan pelopor pelaku usaha batik di Kecamatan Ambulu. Dialah yang mengawali usaha batik untuk pertama kalinya di Ambulu sebelum akhirnya bermunculan pengusaha-pengusaha batik lainnya sehingga menjadikan Ambulu sebagai salah satu sentra produksi batik di Kabupaten Jember.

Dia pula yang mempelopori pendirian Koperasi Produsen Batik pertama di Jember. Koperasi yang diberi nama “Labako Jaya Makmur” tersebut membantu anggotanya yang notabene para pengusaha batik dalam menyediakan bahan baku pembuatan kain batik.

“Awal saya mendirikan usaha batik, karena saya merasa bahwa membatik bisa jadi alternatif pekerjaan masyarakat yang ada di lingkungan sekitar tempat tinggal saya utamanya anak-anak muda yang masih belum memiliki pekerjaan,” cerita Imam.

Begitu usaha batik tersebut berjalan sesuai dengan yang diharapkan, Imam pun tergerak untuk mengumpulkan para pelaku UMKM Batik yang ada di Jember. Motivasinya adalah agar bisa membangun sinergitas dengan Pemerintah Daerah sebagaimana para pelaku UMKM di kabupaten-kabupaten tetangga seperti banyuwangi, Lumajang, Situbondo dan Bondowoso.

“Saat itu sekitar tahun 2014. Saya berusaha menghimpun para pembatik yang ada di sejumlah Kecamatan, seperti Sukowono, Patrang, Kaliwates dan Umbulsari. Komunikasi hanya kita lakukan lewat SMS karena masih belum ada WA. Bersama delapan pengusaha batik kita membentuk komunitas. Kita sesekali kumpul dan sharing. Tapi karena jarak yang berjauhan  dan keterbatasan dalam berkomunikasi, komunitas yang kami bentuk tersebut akhirnya vakum,” tutur Imam.

Meski interaksi dengan komunitas pengusaha batik tidak berjalan, Imam masih terus menekuni usaha batik di rumahnya yang ada di Desa Tegalsari, Kecamatan Ambulu. Bahkan usaha batik yang diberi nama Rezti’s Batik tersebut berkembang pesat sehingga mampu merekrut belasan orang tenaga kerja dengan omzet ratusan juta rupiah setiap bulannya.

Dirikan ASPA dan Koperasi Produsen

 Seiring dengan berjalannya waktu, di Kecamatan Ambulu bermunculan para pengusaha batik yang tersebar di beberapa desa. Disaat itulah Imam bercita-cita ingin membentuk Kampung Batik di Ambulu.

Imam Syafii saat Memberikan Materi pada Pelatihan Membatik

“Cita-cita tersebut terpaksa harus saya kubur karena di Ambulu batik masih belum memasyarakat, ditambah saya sendiri juga masih dalam taraf merintis. Meski demikian, semangat saya untuk membentuk komunitas batik tidak surut karena saya berharap Ambulu dapat menjadi sentra batik di Kabupaten Jember.”

Berbekal semangat itulah, Imam bersama dengan 10 orang pengusaha batik yang ada di Ambulu membentuk Asosiasi Pembatik Ambulu (ASPA) pada tahun 2016. Ketika itu ASPA mampu mewadahi 50 orang lebih tenaga kerja.

Bersama ASPA para pengusaha batik di Ambulu mampu mengembangkan usahanya karena antar pengusaha saling mendukung baik dari sisi pemasaran maupun peningkatan kualitas batik yang dihasilkan.

Sayangnya, disaat industri batik di Ambulu mulai berkembang, datang pandemi COVID-19 yang memporak-porandakan semua sendi kehidupan termasuk usaha batik di Ambulu. Disaat itulah, para pengusaha batik mulai merasakan pentingnya komunitas untuk pengadaan bahan baku pembuatan batik secara bersama-sama.

Dengan tujuan untuk membantu para pengusaha batik dalam penyediaan bahan baku, seperti kain, canting, malam sampai dengan bahan pewarna, anggota ASPA akhirnya mendirikan koperasi produsen yang dilaunching pada 28 Januari 2021.

Koperasi produsen yang diberi nama “Labako Jaya Makmur” tersebut diinisiasi oleh Kelompok Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis UNEJ dan merupakan koperasi produsen batik pertama yang ada di Kabupaten Jember.

Melalui koperasi tersebut para pengusaha batik di Ambulu yang harus berjuang mengatasi sulitnya pemasaran akibat pandemi COVID-19 banyak terbantu dari sisi pengadaan bahan baku. Tidak heran jika banyak pengusaha batik dari luar Kecamatan Ambulu tertarik untuk dapat bergabung ke dalam koperasi tersebut.

“Untuk sementara waktu, kami dari pihak pengurus koperasi masih belum siap untuk menerima anggota baru dari luar kecamatan, karena kami ingin keanggotaan yang ada sekarang ini solid dulu untuk bersama-sama membesarkan koperasi. Jadi karena masih dalam taraf merintis, kami masih akan menata organisasinya dulu. Nanti kalau kepengurusan sudah kuat baru kita menerima anggota baru,” tutur kerawat desa Tegalsari Kecamatan Ambulu ini.

Harapan Kepada Pemerintah Daerah

Pandemi COVID-19 diakui Imam memberi dampak negatif yang luar biasa dari sisi pemasaran sehingga industri batik di Ambulu sempat terseok-seok. Namun kondisi tersebut kini berangsur-angsur pulih.

Batik Produk Rezti’s Batik saat Dipakai Gus-Ning Jember

Rezti’s Batik sendiri meski masih belum bisa memaksimalkan pemasaran sebagaimana masa-masa sebelum pandemi, namun kini sudah mulai bangkit dengan omset perbulan sekitar Rp.200 jutaan dari harga batik yang dijual senilai Rp.150.000 – Rp.1,5 juta.

Kemampuan Batik Jember utamanya yang diproduksi oleh pengusaha batik yang ada di Ambulu dalam memenangkan persaingan pasar disebabkan karena kualitasnya memang tidak kalah dari batik-batik yang diproduksi daerah lain.

“Dari sisi kualitas, Batik Jember boleh dikata sama jika dibanding dengan batik dari daerah lain. Jika ada yang berbeda hanya dari sisi motif, karena tuntutan dari pemerintah setiap daerah harus memiliki batik khas dan khasnya Batik Jember menggunakan motif yang sesuai dengan produk unggulan Jember, yaitu motif tembakau, kopi, kakao dan edamame yang terkadang diselipi motif gerakan ombak dan batu bersisik ular untuk mengenalkan tempat wisata di Jember yang melegenda yaitu Watu Ulo. Selain itu juga ada motif klasik Pasadeng  untuk mengabadikan Kerajaan Sadeng yang pernah berdiri di Jember,” terang Imam.

Karena Batik Jember memiliki kualitas yang tidak jauh berbeda dengan kualitas batik dari daerah lain, Imam berharap unsur birokrasi dalam hal ini Pemerintah Daerah tidak melupakan kain batik yang diproduksi oleh pembatik Jember untuk pengadaan baju seragam ASN.

Harapan tersebut muncul karena Pemkab Jember dari era pemerintahan sebelumnya pernah memesan batik printing dari Bandung untuk pengadaan baju seragam ASN. Namun demikian Imam juga mengakui Pemkab Jember melalui Disperindag pernah memesan kain batik ke semua pembantik di Jember dan kain batik tersebut selanjutnya dijadikan udeng untuk souvenir.

“Harapan ASPA dan juga harapan saya pribadi, Batik Jember bisa menjadi tuan rumah di kabupaten sendiri tidak justru menjadi asing di daerah sendiri. Namanya Batik khas Jember, kan tidak lucu kalau orang birokrasi atau orang Pemkab belinya justru di luar kabupaten Jember,” ungkap Imam penuh harap. (AK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *