KARAWITAN SATRYA BIMA LARAS, SMA BIMA LESTARIKAN SENI KARAWITAN

Karawitan Satrya Bima Laras

Karawitan Satrya Bima Laras

6 53 23 26 5
6 53 23 26 5
6 53 23 26 5
  6 5  6 7  6 7  6 5
6 56 76 76 5
7 63 23 26 5

Notasi di atas adalah notasi gending Kebo Giro yang sering dikumandangkan untuk mengiringi temu manten atau peristiwa lain seperti mengiringi barisan siswa yang hendak diwisuda setelah menyelesaikan serangkaian ujian di sebuah lembaga pendidikan. Siang itu notasi tersebut sedang dimainkan oleh beberapa gadis belia, yang sering disebut generasi milenial.

Wikipedia menjelaskan bahwa karawitan adalah seni gamelan dan seni suara yang bertangga nada slendro dan pelog. Kesenian ini terkenal di Pulau Jawa dan Bali. Istilah karawitan berasal dari bahasa Jawa yaitu kata “rawit” yang berarti halus dan lembut. Jadi karawitan berarti kelembutan perasaan yang terkandung dalam seni gamelan.

Karawitan Satrya Bima Laras

Ada beberapa sekolah karawitan di Indonesia. Sebut saja, Sekolah Menengah Karawitan Indonesia di Jogjakarta, Sekolah Menengah Karawitan Indonesia di Surabaya, Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, di Makasar, SMKN 8 Surakarta, SMKN 10 Bandung dan di beberapa tempat lainnya.

Lembaga sekolah formal umum, SMA, ada juga yang membuka kegiatan ekskul seni karawitan. Ekskul tersebut memang diselenggarakan untuk memberi kesempatan seluas-luasnya bagi peserta didik untuk menyalurkan bakat seni tradisi yang mereka miliki.

Pihak sekolah memang punya kepedulian yang tinggi sekaligus mendapat dukungan stakeholder masyarakat. Kedua pihak menyadari pentingnya mempertahankan dan nguri-nguri seni karawitan yang mempunyai nilai adi luhung tersebut.

Agus, Pelatih Karawitan Ksatrya Bima Laras

SMA BIMA AMBULU juga memiliki ekskul seni karawitan. Komunitas anggota ekskul itu melabeli diri dengan sebutan ekskul Karawitan Satrya Bima Laras.

Sebanyak 15 murid tercatat sebagai anggota. Setiap kali diadakan latihan di tempat khusus dengan perangkat komplit, mereka mencoba menabuh beberapa gending, di antaranya Kebo Giro, Prau Layar, Giro Bali Renteng dan lain-lain. Selaku pelatih, mas Agus yang masih muda, terlihat telaten membimbing murid- murid kelas X dan XI itu.

Di antara gadis belia itu ialah Jesica, Nabila, Rosida serta Ferda. Sementara murid laki-laki yang ikutan nimbrung ialah Dimas dan Tegar. Dalam setiap latihan, Ki dalang muda, Wiwit ( Moh. Nur Wicaksono) meningkahi dengan tiupan seruling yang merdu nan padu. Mereka mengikuti arahan mas Agus yang ikutan menabuh kendang.

Ferda Maulinda

Ferda Maulinda, nama lengkapnya, menjelaskan bahwa dirinya tergabung dalam ekskul karawitan selama setahun belakangan ini, yakni selama duduk di kelas X ini. Memasuki tahun kedua, dirinya bertekad akan lebih serius menghafal notasi. “Saya akan melakukan latihan dengan penuh konsentrasi,” terangnya dengan tersenyum.

Kelahiran Jember, 5 Agustus 2004, ini pertama mengenal seni karawitan semasa masih duduk di bangku kelas V SD. Bapak Judi selaku pembimbing kami. “Beliau sangat telaten membimbing hingga kami menjadi duta kecamatan Wuluhan untuk mengikuti festival karawitan yang digelar pada saat ada kegiatan Perkemahan Pramuka East Java Scoot Colage,” tambahnya.

Suasana pelatihan Karawitan Ksatrya Bima Laras

Penabuh saron ini mengakui bahwa irama nada karawitan mampu memikat hati siapa saja yang sengaja memerhatikan perpaduan antara kendang, saron, demong, peking, kenong dan gong dengan serius. “Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika bangsa Eropa, Amerika dan lain-lain juga terpesona sekaligus mempelajari seni karawitan ini,” ungkapnya lagi.

Putri pasangan Suradi Gendut- Nur Hayati, ini mengidolakan penyanyi campursari dan sinden modern, Puri Ratna. Pada kesempatan ini dirinya mengajak rekan-rekan kawula muda untuk melestarikan seni karawitan sebagai seni peninggalan leluhur yang mempunyai nilai-nilai seni dan pesan moral sesuai dengan budaya bangsa Indonesi. (sr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *