Ketemu Sinden Belia, Dea Ananda Melati

sinden belia

JEMBER, situstalenta.com – Suatu pagi, di kelas IPS, pelajaran Sejarah sedang berlangsung. Pak guru Deny tidak banyak omong. Setelah memimpin doa dan mengucap salam, beliau langsung menuju papan tulis. Srat-sret membuat gambar skema silsilah raja-raja Singosari.

Selesai membuat skema silsilah, beliau melangkah ke pojok depan kelas seraya membaca tulisan yang ada di papan tulis. Tanpa sengaja, pak guru yang masih single ini mendapati salah satu muridnya tertidur. Lengan tangan murid yang bersedekap menopang kepala yang terkulai itu, disentuhnya perlahan.

“Dhuh Nimas mustikaning Wang ( Aduh Nimas…mustikaku/ pujaanku)” suara Dea melengking merdu. Seperti biasanya kalau sedang nembang pada saat menjadi sinden wayang kulit. Nada suaranya memang tergolong kecil melengking itu memecah kesunyian kelas.

Sontak pak guru dan teman sekelas tertawa keras. Menyadari dirinya ditertawai akibat mengigau di kelas, tanpa ba bi bu, pemilik nama lengkap Dea Ananda Melati itu pun lari ke toilet. Cuci muka.

Pengalaman pahit lainnya yaitu saat salah lirik atau syair tembang. Tentu saja semua sinden lain dan pengrawit dibuat kaget. Untungnya….Ki dalang Sudjito memakluminya. Bahkan, bisa menutupi kesalahannya dengan melontarkan guyonan spontan. Rasa malu Dea, tertutupi.

Ada lagi pengalaman yang tak terlupakan sepanjang masa, yaitu saat kesirep (tertidur) pada saat mengikuti pentas pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Sudjito dari Sabrang, Ambulu. “Bukan main, malunya Pak,” terang gadis kelahiran 9 September 2002 itu seraya tersenyum ramah.

Sejak kelas 8 SMP, Dea menjadi anggota Paguyuban Kesenian Kyai Ageng Rahayu, pimpinan Ki dalang Sudjito tersebut. Selain menggabung di paguyuban, anak pertama dari dua bersaudara, putri pasangan Supardji dan Rini Setyowati ini, juga dibimbing dan digulawentah oleh sinden senior Ambulu, Mbah Cempluk dan almarhum bapak Wisnu.

Kepada teman-teman sebayanya, Dea mengajak kaum perempuan milenial ikut aktif melestarikan kesenian tradisional apa saja. “Sebenarnya, di bidang seni tradisi ini, peluang miniti karier sampai puncak sangat terbuka lebar,” jelasnya.

Dea mengakui bahwa dirinya belum mencapai puncak karier. Namun, dia sangat bersyukur karena Ki dalang Sudjito dengan kesabaran dan ketelatenannya, mengantarkan dirinya bertemu dan nyinden bareng dengan Agnes Serfozo dari Hongaria, serta dengan sinden-sinden terkenal lain seperti sinden Niken Salindri dan sinden Eka Suranti.

Perempuan yang tinggal di dusun Mandiku, desa Sidodadi, Tempurejo ini sudah beberapa kali menyumbangkan suaranya di almamaternya, SMA BIMA Ambulu pada saat sekolahnya merayakan dies natalis. Selama mengiringi Ki dalang Sudjito berbagai tempat pernah ia singgahi seperti wilayah Jember, Lumajang, Banyuwangi dan bahkan Kalimantan.

Pangagum berat penyanyi campursari serba bisa Nurhana, dari Boyolali ini pengin banget menekuni profesi tata rias pengantin. “Saya berusaha menjadi penata rias profesional,” ungkapnya seraya menambahkan bahwa kegiatan nyindennya tetap dipertahankan.

Di SMA BIMA Ambulu, tempat Dea menimba ilmu, tercatat ada dua sinden. Selain Dea, ada nama lain yaitu Lailatun Istiqomah. Sedangkan jumlah dalang remaja tercatat ada 4 orang, yaitu: Bryant Bagus Prakoso, Moh. Nur Ikhsan, Moh. Nur Wicaksono (Wiwid) dan Lambang Kurnia Pratama. (sr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *