Lebih dekat dengan Dra. Sri Suhandari : Melayani Siswa Belajar Daring

Dra. Sri Suhandari

Dra. Sri Suhandari

JEMBER, situstalenta.com – Belajar dalam jaringan (daring) menjadi alternatif utama semenjak merebaknya virus corona di se antero dunia. Sistem belajar mengalami perubahan total. Belajar konvensional atau tatap muka diganti dengan belajar dalam jaringan. Belajar dengan model baru itu merupakan tantangan di era revolusi industri 4.0.

Perkembangan teknologi saat ini menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari, termasuk dalam dunia pendidikan. Oleh sebab itu, baik ada ataupun tidak ada wabah virus corona, cepat ataupun lambat, belajar dalam jaringan (daring) adalah suatu keniscayaan.

Di Indonesia sebagian sekolah sudah menjajal sistem belajar baru tersebut. Bahkan, ada juga usaha rintisan (start-up) Ruang Guru dan Zenius yang merupakan platform pembelajaran berbasis kurikulum sekolah melalui video tutorial interaktif oleh guru dan animasi di aplikasi ponsel. Dengan demikian, guru dan buku bukan menjadi sumber belajar utama. Sekarang, di era revolusi 4.0 ada banyak pilihan sumber belajar.

Namun, sistem baru tersebut menyembulkan beberapa kekurangan, di antaranya guru sulit mengontrol mana siswa yang serius belajar dan tidak. Seorang siswa akan mengalami kesulitan berinteraksi dengan guru dan sesama siswa.

Dra. Sri Suhandari bersama dewan Guru SSMP Islam Ambulu
Dra. Sri Suhandari bersama dewan Guru SSMP Islam Ambulu

Padahal, interaksi itu menjadi suatu fundamental dalam belajar.  Dengan adanya interaksi dengan siswa lain maupun dengan guru, akan terbuka pintu praktik riil belajar sesuatu yang baru, yang tidak bakalan ditemukan pada kegiatan belajar di dalam kelas ( sumber : ANTARANEWS, 2 April 2020)

Interaksi di Musim Pandemi

Dra. Sri Suhandari termasuk guru yang melakukan interaksi dengan siswa-siswanya demi mendapatkan feedback (umpan balik) setelah dirinya memberikan tugas secara daring. Langkah itu dilakukan selain kehendak pribadi, juga menjalankan program sekolah, tempat dirinya mengabdi. “SMP Islam menugasi kami, selaku guru wali untuk melakukan kunjungan ke rumah siswa-siswa kami, “ terang alumnus SMAN Ambulu 1985 ini.

Dalam kunjungan itu ibu tiga putra itu mengaku banyak mendalatkan rasa suka. “Kami dapat membimbing siswa-siswa kami yang mengalami kesulitan me gerjakan tugas daring. Selain itu, kami pun bisa menjalin kerja sama dengan orang tua mereka. Misalnya, dalam masa PPDB ( Penerimaan Peserta Didik Baru), kami bisa titip brosur atau pesan langsung dalam menjaring siswa baru”, tambahnya.

Dra. Sri Suhandari bersama Anak Didik
Dra. Sri Suhandari bersama Anak Didik

Ketika ditanya apa duka yang dialami selama melakukan kunjungan ke rumah-rumah siswa, pengampu mapel matematika ini menjawab bahwa dirinya jarang mengalami rasa duka. “Paling- paling kami gak ketemu dengan siswa. Meski begitu, dapat nitip pesan kepada orang tua mereka,” terang guru yang mengabdi di SMP Islam sejak tahun 2007 tersebut.

Sekolah tempat dia mengabdikan diri berdiri sejak tahun 1956. Tergolong sekolah lama yang konsisten mempertahankan ciri khas pendidikan dan pengajarannya. Selain mengikuti kurikulum pemerintah, ada program khusus. Program itu dinamai kelas unggulan. Para siswa bisa duduk di kelas unggulan jika bisa melewati serangkaian tes.

“Di antaranya, siswa fasih membaca dan menulis Alqur’an, mampu mengerjakan soal-soal matematika dasar dan menjawab pengetahuan umum,“ ungkapnya pula.

Para siswa kelas unggulan akan mendapatkan tambahan pelajaran yang sangat bermanfaat di masa yang akan datang. “Mereka menerima mapel bahasa Korea, bahasa Arab dan matematika sains.

Selain itu, para siswa tersebut juga mendapatkan pelatihan dalam hal tahfid Alqur’an, membatik dan teknologi sepeda motor,” pungkasnya, bangga. (sr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *