Letkol Inf. La Ode Muhammad Nurdin, Jaga Kondusifitas Wilayah Lewat Pendekatan Religi

Letkol Inf. La Ode Muhammad Nurdin

Letkol Inf. La Ode Muhammad Nurdin

JEMBER, situstalenta.com – “Jabatan yang kita miliki itu harus bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan harus dibarengi dengan inovasi-inovasi dan ide kreatif agar amanah yang kita emban tersebut dapat optimal. Dan yang tidak kalah penting adalah mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa,” demikian prinsip yang dipegang teguh oleh Komandam Komando Distrik Militer (Kodim) 0824/Jember, Letkol Inf. La Ode Muhammad Nurdin, S.Sos.,M.I.Pol

Prinsip itu pula yang membuat laki-laki kelahiran 27 Oktober 1976 ini seolah tidak pernah ada habisnya dalam melahirkan ide-ide baru yang dituangkan dalam berbagai aktifitas yang terkait dengan tugas dan jabatan yang dia emban serta berbagai aktifitas sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Diantaranya adalah menggandeng para pengusaha untuk memberikan bantuan kepada para penyandang disabilitas dan penggali kubur yang terdampak covid-19, one day one pesantren, one week one panti asuhan, melaksanakan aktifitas “Safari Tahajud” dan berbagai aktifitas yang lain.

Untuk Safari Tahajud misalnya, program ini langsung digulirkan begitu dipindahtugaskan dari Surabaya Timur ke Jember pada bulan Agustus 2019 yang lalu. Sebanyak 28 kecamatan sudah dia kunjungi sebelum akhirnya dihentikan untuk sementara waktu disebabkan pandemi covid-19.

Masa Kecil

Bakat sebagai pemimpin memang sudah dimiliki anak bungsu dari 6 bersaudara putra pasangan Alm. H. La Ode Palaido dengan Hj. Wa Ode Halifah ini. Saat masih kecil dia selalu menjadi pemimpin bagi teman-temannya, baik ketika bermain maupun saat menjalankan aktifitas sekolah.

Tidak hanya itu, Nurdin juga memiliki prestasi yang patut dibanggakan, baik dari sisi akademik maupun non-akademik. Selain selalu menjadi juara kelas, dia juga multi talent utamanya dalam bidang seni budaya.

Letkol Inf. La Ode Muhammad Nurdin
Letkol Inf. La Ode Muhammad Nurdin

Hal tersebut tidak lepas dari pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya yang memiliki latar belakang sebagai pendidik/Guru. Ayah Nurdin yang menjabat sebagai Kepala Sekolah, selanjutnya terpilih sebagai Ketua PGRI sebelum akhirnya terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Muna selama 1 periode (Wakil ketua) dan anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara selama 4 periode.

Dengan bakat dan potensi yang dia miliki, Nurdin yang kala itu masih duduk di bangku SD pernah meraih juara I dalam lomba tari, menyanyi/vokal grup dan saat SMP juara I lomba puisi tingkat Kabupaten serta tahun 1991 terpilih sebagai Juara I Siswa Teladan SMP tingkat kabupaten dan Juara II Siswa Teladan tingkat propinsi Sulawesi Tenggara.

Saat duduk di bangku SMP, Nurdin aktif dalam kegiatan Kepramukaan. Dia sempat akan diberangkatkan untuk mengikuti Jambore Nasional pada tahun 1991, hanya saja rencana tersebut terpaksa batal.

Penyebabnya, karena pada saat yang bersamaan dia harus mewakili Kabupaten Muna untuk mengikuti lomba siswa Teladan, saat SMA ikut lomba pidato tingkat propinsi. Pada lomba tersebut, Nurdin meraih juara I.
Perjalanan Karir
Meniti karir di dunia militer, bukan hal yang mudah bagi Nurdin, karena meski ayahnya menduduki jabatan sebagai anggota DPRD Provinsi dan tentunya kenal baik dengan Gubernur, Danrem serta pejabat penting lainnya, namun orangtuanya tidak pernah mau memanfaatkan fasilitas tersebut. Artinya, Nurdin harus berjuang sendiri untuk dapat mewujudkan cita-citanya.

Hal itulah yang membuat Nurdin sempat tertatih-tatih untuk dapat diterima di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Lulus SMA pada tahun 1995 dia sempat mengikuti tes AKABRI, namun jatuh di Magelang. Setahun kemudian dia mencoba mengikuti tes lagi, namun kembali gagal disebabkan kondisi tubuh yang kurang fit.

Pada tahun 1997 kegagalan tersebut terulang. Justru pada saat itu dia diterima di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) dan Sekolah Penerbangan dalam waktu bersamaan. Karena diharuskan memilih salah satu, Nurdin pun menjatuhkan pilihannya pada Sekolah Penerbangan. Sayangnya, pada tes akhir yakni tes psikologi terbang dia gagal sehingga harus kembali ke kampung halaman.

Tiga kali berturut-turut mengalami kegagalan tidak membuat Nurdin putus asa untuk kembali mengikuti tes AKABRI. Akhirnya pada kali keempat dia berhasil lolos bersama 9 orang putra daerah dengan menyisihkan lebih dari 800 orang pendaftar. Dia pun masuk AKABRI pada tahun 1998 dan lulus pada tahun 2001.

Begitu lulus dia ditempatkan di Yonif 527 Lumajang selama 6 bulan sebelum akhirnya dipindahtugaskan ke Yonif 500 Raider Surabaya. Sepuluh tahun kemudian tepatnya pada tahun 2011 dia dipindahtugaskan ke Ambon sebagai Pabanda Dik Spers Kodam Pattimura berlanjut sebagai Wadanyon 733 Raider kemudian menjadi Kasdim 1501/ Ternate.

Pada tahun 2015 Nurdin mengikuti tes Sekolah Staf dan Komando (Seskoad) dan berhasil lolos sehingga harus mengikuti pendidikan selama setahun. Usai menjalani pendidikan, dia ditempatkan di Kostrad Malang sebagai Kasi Pam Sintel Divisi 2 Kostrad selama kurang lebih 1,5 tahun sebelum akhirnya dipercaya untuk menjadi komandan Batalyon Raider 509 Kostrad di jember selama hampir 2 tahun.

Setelah itu, perwira TNI berpangkat Letkol ini dipercaya untuk menjadi Komandan Kodim di Surabaya Timur dan bertugas disana selama kurang lebih 7 bulan. Baru pada pertengahan bulan Agustus 2019 dimutasi ke Jember untuk menjadi komandan di Kodim 0824/Jember.

Pendidikan Karakter

Saat masih bertugas di Surabaya, Nurdin terpikat dengan seorang perempuan asli Jember bernama Rari Sofiantine,SE yang kemudian dinikahinya pada tahun 2006. Pernikahan tersebut membuahkan 3 orang putra/putri yaitu Wa Ode Azizah Fitri Nazilla (lahir tahun 2007 di sby), La Ode Muhammad Arvand (lahir tahun 2009 di sby) dan Wa Ode Ayra Ayudia inara (lahir tahun 2018 di jember).

Letkol Inf. La Ode Muhammad Nurdin bersama keluarga
Letkol Inf. La Ode Muhammad Nurdin bersama keluarga

Bagi Nurdin, mendidik ketiga buah hatinya bukan hal yang sulit, karena saat masih anak-anak hingga remaja dirinya banyak ditempah dengan pendidikan karakter oleh kedua orang tuanya. Pendidikan dari orang tuanya itulah yang kini dia tularkan kepada anak-anaknya, tentunya setelah disesuaikan dengan kondisi yang ada pada saat sekarang.

“Saat masih kelas 5 SD saya pernah berjualan es, roti dan jambu di sekolah-sekolah yang ada di dekat rumah. Padahal saat itu ayah saya sudah menjadi anggota DPRD dengan jabatan sebagai wakil ketua dewan kab Muna ,” cerita Nurdin mengenang masa lalunya.

“Saya dulu tidak pernah berpikir, kenapa hal tersebut bisa terjadi. Kenapa saya tidak dilarang oleh orang tua, malah ibu justru memberi saya uang setiap kali pulang dari berjualan,” lanjut Nurdin.

“Ternyata sekarang saya bisa ambil hikmahnya. Berarti orang tua saat itu mengajarkan kepada anak-anaknya termasuk saya, kalau ingin mendapatkan sesuatu maka harus berupaya terlebih dahulu. Hal itulah yang kini saya ajarkan kepada anak-anak,” papar Nurdin,yang juga mengatakan kalau orang tuanya selalu menekankan kepada anak-anaknya sedari kecil untuk tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu.

Berkah dari pendidikan karakter yang ditanamkan oleh orang tua serta penanaman disiplin dalam menjalankan ajaran agama itulah yang buahnya kini dinikmati oleh La Ode Muhammad Nurdin, baik dalam menjalankan tugas maupun dalam mendidik putra-putrinya. (Maji)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *