22/10/2021

Masa Pandemi, Saat yang Tepat Memerdekakan Budaya Literasi

budaya literasi

Oleh:

Akhmad Fauzi *)

Tahun 2016, Mendikbud, Anies Baswedan meluncurkan gerakan Jember Membaca dalam rangka menyambut Gerakan Indonesia Membaca (19/12/2015), Selang empat bulan kemudian tersiar kabar duka jika Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara dari sisi kemampuan membaca dan menulis. Kabar tersebut berdasarkan dari pemeringkatan literasi internasional yang dilakukan oleh Most Literate Nations in the World, yang diterbitkan Central Connecticut State University, Maret 2016. Benar-benar sebuah prestasi yang cukup memprihatinkan disaat bangsa ini sedang bergairah untuk melakukan reformasi dalam segala bidang. Akankah hal ini menjadi indikasi jika pencanangan Jember Membaca tidak dapat direalisasi dengan baik. Atau, justru Gerakan Indonesia Membaca lah yang tidak tersambut dengan baik?

Sedikit saya ingin mengulas kondisi daerah saya berkaitan dengan dunia literasi. Sebagaimana kita ketahui, di tahun 2012, Jember merupakan kabupaten yang memiliki angka buta aksara tertinggi di Indonesia. Data per-2012 menunjukkan ada 167 ribu warga Jember yang masih buta aksara. Propinsi yang terbesar buta aksaranya adalah Jawa Timur, yaitu sebanyak 1,4 Juta jiwa.

Secara keseluruhan, angka buta aksara di Indonesia ada 3,4 persen dari penduduk yanga ada. Mereka tersebar di 25 kabupaten yang tersebar di enam provinsi. 3,4 persen itu ternyata jumlahnya setara dengan 5,98 juta jiwa. Sungguh sebuah angka yang cukup fantastis, karena melebihi jumlah penduduk Singapura (nasional.tempo.co dan sumber media lainnya, 2012).

Kalau merujuk pada pola gerakan Jember Membaca, dalam empat bulan dari perjalanan kegiatan tersebut seharusnya sudah bisa menampakkan hasil yang memuaskan. Apalagi entasan buta aksara di Jember Membaca ini menggunakan pola gugur gunung. Yaitu pola pendataan door to door yang kemudian dari data yang diperoleh dilakukan pelayanan upaya pengentasan buta aksara dengan melibatkan semua pihak. Mulai dari aparat TNI, birokrasi sampai dengan tokoh-tokoh pemuda dan tokoh-tokoh masyarakat.

Sepintas sinergitas yang tergambar dalam pola di atas seharusnya memberikan keyakinan akan tuntasnya gerakan Jember Membaca ini. Publikasi terkini dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jember mencatat masih ada 0,44 persen usia pendidikan 7-24 tahun belum pernah merasakan pendidikan sama sekali.

Di sisi lain, angka penduduk yang tak lagi sekolah juga tinggi, mencapai 30 persen dari kelompok usia tersebut. “Kalau dilihat dari usia sekolah 7-24 tahun, penduduk tak pernah sekolah terbilang kecil. Tapi jika dilihat dari lima tahun ke atas, jumlahnya jauh berbeda, yaitu 12,27 persen”,tutur Kepala BPS Jember Arif Joko Sutejo (radarjember.id 11 Pebruari 2020).

Memang, tidak ada keterkaitan yang signifikan antara buta aksara dengan minat membaca dan menulis. Keduanya memiliki ranah yang berbeda. Tetapi merefleksi fakta masih besarnya buta aksara di negeri ini dengan fakta lemahnya minat baca tulis akan memberikan kesempurnaan dalam menganalisis sebab.

1. Data dari survey siswa saya

Saya pernah melakukan survey sederhana. Saya ambil sampel acak tetapi tertuju (porposif sampling). Bukan angket yang saya sebarkan, tetapi berupa pertanyaan lisan yang dijawab langsung oleh siswa. Hasilnya adalah :

  1. sembilan anak suka membaca, duapuluh anak kadang-kadang membaca, empat anak tidak suka membaca,
  2. sembilan belas anak malas untuk membaca, lima anak rajin membaca, sebelas anak menjawab tidak tahu,
  3. tiga anak termotivasi membaca untuk menambah ilmu, sisanya karena iseng belaka.

Yang unik dari survey saya ini adalah :

  1. hanya tiga orang tua/wali murid yang suka membaca, sepuluh orang tua kadang-kadang  membaca, duapuluh satu orang tua tidak pernah membaca,
  2. satu orang tua selalu membaca koran, dua orang tua membaca brosur-brosur pertanian, sisanya tidak tahu apa yang dibaca orang tua,
  3. lima anak pernah menuntaskan membaca 3-5 buku selama hidupnya. Tujuh anak menuntaskan di bawah tiga buku, sisanya tidak pernah membaca buku sampai tuntas.

Sangat memprihatinkan kondisi yang tergambar dalam survey saya di atas. Andaikan kita menganggap jawaban siswa itu benar adanya serta kita anggap pula responden yang ada bisa mewakili keseluruhan siswa di SMP saya (atau bahkan di sekolah se-Indonesia), maka saatnyalah harus diberlakukan darurat semangat membaca. Bukan saja untuk siswa tetapi orang tua pun juga harus menjadi sasaran untuk diberi semangat dan motivasi membaca. Karena terbukti, kerapuhan semangat membaca siswa ini korelatif dengan kondisi semangat membaca orang tua.

2. Rendahnya motivasi membaca

Banyak suara-suara sumbang yang bernuansa saling menyalahkan berkaitan dengan realita rendahnya gemar membaca di negeri ini. Masyarakat menyalahkan sekolah dan pemerintah karena harga beli buku dan bahan-bahan bacaan dianggap mahal. Guru dan sekolah melihat adanya ketidaksingkronan antara upaya yang telah dilakukan di sekolah dengan pengawasan di rumah. Dalam hal ini, seharusnya pemerintah berada dalam posisi sebagai pihak yang bisa menyelesaian kendala-kendala tersebut.

Pemerintah sebenarnya sudah berupaya dengan keras untuk melakukan pemenuhan fasilitas-fasilitas taman bacaan bagi warganya. Pembangunan gedung-gedung perpustakaan, pendirian taman-taman bacaan, pengadaan perpustakaan keliling, sampai pada pengadaan buku murah bahkan buku pegangan siswa gratis telah diupayakan oleh negara.

Tetapi apa lacur, upaya pemerintah itu justru terbaca berbanding balik dengan animo masyarakat. Fasilitas-fasilitas yang telah dibangun belum juga merangsang siswa dan masyarakat untuk gemar membaca, apalagi menulis.

Maka tidak heran jika dalam pemeringkatan literasi internasional di atas, Indonesia justru hebat dari sisi pembangunan dan pengembangan fasilitas dan pengadaan sarana membaca. Bahkan peringkat Indonesia untuk pengadaan fasilitas ini berada pada urutan ke-42, jauh mengungguli Korea Utara, Singapura, Belanda, dan negara-negara maju lainnya.

Apa artinya? Artinya adalah, gedung-gedung dan fasilitas yang cukup memadai itu kurang ada yang memanfaatkan. Perpustakaan sepi pengunjung, taman bacaan sepi peminat, yang kemudian berefek pada lesunya minat menulis dan berakhir pada buramnya dunia literasi. Artinya pula, gambaran motivasi akan pentingnya membaca masih terlihat rendah di kalangan masyarakat Indonesia.

3. Upaya pemerintah memotivasi warga  untuk gemar membaca dan menulis

April 2016, Kemendikbud memberikan angin segar untuk para penulis. Angin segar itu adalah berupa memberi semacam beasiswa kepada para penulis yang gemar menelorkan karya-karyanya. “Kami memberi fasilatas supaya mereka semakin berkarya”, kata Mendikbud, Anies Baswedan saat itu, kepada media.

Secuil uraian di atas menjadi bukti jika pemerintah tersadar dan tergerak untuk mendorong dunia literasi, dunia tulis menulis agar bergeliat semakin meningkat. Upaya ini memang tidak serta merta akan memberikan perubahann yang cepat bagi motivasi membaca dan menulis di negeri ini. Namun setidaknya menjadi angin segar jika pemerintah mulai berfokus pada hal tersebut.

Yang lebih menggembirakan lagi adalah gerakan literasi digital learning untuk guru dan masyarakat yang berminat. Konsep sederhana dari gerakan literasi digital learning ini adalah mensuport guru dan masyarakat untuk gemar membaca menulis di era digital, di era dunia internet. Kebijakan ini pun bisa diartikan sebagai keberpihakan pemerintah untuk memotong kelesuan gairah membaca dan menulis di negeri ini.

 Lantas, apakah sudah cukup upaya tersebut?  Kayaknya masih butuh upaya-upaya lain yang lebih menyentuh semangat membaca dan menulis ini. Memotong sebab lesu motivasi atau semangat membaca lebih rumit daripada berupaya untuk pengadaan gedung dan buku-buku. Ikatan niat, kesempatan, sampai pada keyakinan akan manfaat membaca dan menulislah yang perlu terus menerus di serukan ke masyarakat. Sembari memberikan penyeruan itu, pelan-pelan pemerintah dan aktifis gerakan literasi melakukan pembenahan, baik dari sisi kaulitas maupun kuantitas yang dibutuhkan utuk dunia literasi.

Yang tidak kalah pentingnya adalah pemberian penghargaan atas semangat warga untuk gemar membaca maupun gemar menulis. Penghargaan tidak harus dalam bentuk kas atau langsung. Penghargaan bisa berupa kemudahaan, perhatian, sampai pada pemberian jaminan akan kebermanfaatan dari membaca dan menulis.

Contoh sederhannya adalah, jika dari sisi gemar membaca, pemerintah bisa lebih mendekatkan dan memudahkan masyarakat untuk mengakses info dan buku-buku (baik yang konvensional maupun yang digital). Sehingga masyarakat merasa tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkannya. Misalnya, pemberian akses internet, membuat kedai-kedai buku yang lebih mudah dijangkau oleh warga, dan sebagainya.

Sedangkan jika dari sisi menulis, upaya memberikan beasiswa ini sudah bisa mewakili salah satu terobosan yang dilakukan. Disamping juga memberikan kemudahan kepada penulis untuk menerbitkan buku, memposting tulisan jika itu di dunia digital, atau pemberian reward-reward lain atas kegigihannya menghasilkan sebuah karya.

4. Literasi di Era Pandemi dan Mas Nadiem

Singkat saya ilustrasikan, sejak adanya pandemi virus Korona, yang salah satu konsekwensinya adalah siswa harus belajar di rumah, nyaris saban pagi di daerah saya anak seusia SD/SMP bergerombol. Ketika saya dekati, saya tanya tentang tugas-tugas dan aktifitas belajar di rumah, mereka selalu menjawab “Sudah, Pak!”. Sulit bagi saya untuk meneruskan pertanyaan, kecuali hanya berdoa semoga mereka bersabar dengan situasi ini.

Akankah hal ini akan terus lama terjadi? Andai saja mereka terbiasa dengan budaya literasi, budaya membaca lalu tersedia sarana dan prasaranya, betapa indahnya mereka beraktifitas belajar di rumahnya.

Yups, yang pasti mas Nadiem (di berbagai media) prihatin dengan perolehan peringatan Programe for International Student Assessment atau PISA 2018 yang dirilis pada Nopember 2019. Jadi intinya, Menteri termuda di kabinet sekarang ini sudah menunjukkan batin terdalamnya. Mas Nadiem prihatin, itu intinya.

Saya sengaja mencoba menyapa Mendikbud kita dengan “Mas”, adalah sebagai bentuk perwujudan kemerdekaan saya dalam wilayah humanisme. Begitu juga dengan judul artikel ini. Saya memerdekakan pembaca untuk memberikan titik tekan dimana yang disuka. Apakah di pandeminya, atau di literasinyanya, atau mungkin budayanya. Silahkan pembaca memerdekakan diri untuk memerdekakan tafsir atas judul tulisan ini.

Bisa dimaklumi jika gebrakan mas Menteri masih belum terlihat untuk budaya literasi ini. Gebrakan yang menggaung dari beliau adalah masih soal merdeka belajar, yang didalamnya ada penghapusan UN, penyederhanaan RPP, pun penyempurnaan zonasi untuk PPDB. Dan yang paling gres adalah dilaunchingnya gerakan guru penggerak.

Tetapi bukan berarti Mas Nadiem hanya berhenti pada prihatin saja. Setidaknya, beliau sempat memberikan statemen melihat fakta seperti itu. Mendikbud merasa perlu adanya perubahan cara pandang bangsa Indonesia dalam membaca. Menurut dia, budaya literasi bukan hanya dilakukan dengan cara-cara konvensional, yaitu melalui buku (sumber : Liputan6.com). Bahkan di sumber yang sama, mas Menteri sempat berseloroh jika budaya membaca sebaiknya bisa melalui berbagai cara yang kita senangi. “Mungkin kaya main games ya. Bapak-bapak, Ibu-ibu pernah main games, iya kan”, ucap Nadiem Makarim di Kemendikbud, Jakarta, Desember 2019 lalu.

Akan lebih menarik lagi jika beliau saat ini bergerak cepat untuk melakukan gebrakan di dunia literasi senyampang banyak aktifitas warga (utamanya guru dan siswa) lebih banyak di rumah. Logikanya, “jam longgar” di masa pandemi ini lebih sering ditemui. Saya termasuk yang mendorong benar agar mas Menteri melakukan launching sesuatu yang bisa mendongkrak semangat dan budaya literasi bangsa ini.

Gebrakan itu bisa berupa insentif untuk penerbit dan penulis, pengadaan tempat-tempat membaca, memperluas kesempatan dunia tulis menulis, atau apalah yang saya yakin mas Nadiem lebih punya literatur yang lengkap untuk membuat gebrakan itu.

Teramat muspro jika aktifitas pendidikan yang rada tersendat (karena efek Korona)  tidak dimanfaatkan sebaik mungkin. Sungguh, jika saya amati di lima bulan terakhir, energi bangsa hampir seluruhnya hanya pada penanganan Covid-19 dan debatable tentang pelambanan ekonomi. Alangkah baiknya jika di tengah pelampiasan dua tema itu Mendikbud membuat gebrakan untuk menggeliatkan budaya literasi. contoh sederhananya adalah dengan menggelontorkan anggaran besar-besaran untuk reward mereka yang berkiprah di dunia literasi. Contoh sederhana lagi, misalnya memberikan akses gratis untuk mereka yang beraktifitas di dunia literasi, baik dalam membaca, menulis, mencipta, dan mengapresiasi karya-karya.

Intinya, pemerintah harus segera memulai memimpin gerakan-gerakan literasi ini. Mengisi kekeosongan waktu di masa pandemi adalah saat yang tepat untuk menciptakan budaya literasi yang kian kuat. Lha wong gerakan new normal saja mulai bisa dibiasakan.Upaya apapun harus dilakukan, disamping membaca dan menulis bisa mengisi waktu luang yang bermakna, pun membaca dan meulis, dunia literasi, budaya literasi, merupakan kunci terbukanya segala wawasan dan kreasi-kreasi perubahan.

Jika toh upaya (gebrakan budaya literasi) yang dilakukan belum bisa dimanfaatkan secepatnya, setidaknya di sepuluh tahun ke depan hasil dari upaya saat ini akan nampak dengan sempurna. Sehingga keterpurukan akan minat membaca dan menulis masyarakat Indonesia dapat segera tertolong.

Sesungguhnya bukan karena peringkat 60 itulah yang memicu motivasi kita untuk menggairahkan semangat membaca dan menulis. Tetapi kesadaran akan ekses dari tenggelamnya pada kelesuan minat membaca dan menulislah yang seharusnya membuat lebih takut bagi bangsa ini dalam menghadapi proses-proses perubahan di masa yang akan datang.

Mari galakkan semangat membaca. Salam literasi!

Kertonegoro, 4 Mei 2021

*) Penulis adalah guru bahasa Indonesia

Pada SMP Negeri 2 Jenggawah – Jember – Jatim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *