Mengenal Dalang Millenial “Bryant Bagus Prakoso”

Dalang Millenial

“Gong, kowe digoleki kang Gareng. Jare kowe njupuk klapane sing ceblok?” cluluke Petruk marang adhine.

“Ora nyolong kok kang. Aku nemu kok”, wangsulane Gareng cepet.

“Ning nyatane, kowe nggawa muleh klapa garing sing ceblok ing pakarangane Gareng. Kuwi jenenge njupuk duweke liyan. Bisa diarani nglanggar angger-angger, kuwi. Ana sanksi ukume lho” bacute Petruk anggone tutur-tutur marang adhine.

(terjemahannya)

“Gong, kamu dicari Kakang Gareng. Kata dia, kamu mencuri kelapanya yang jatuh di kebonnya,” ujar Petruk

“Saya gak merasa mencuri lho Kang Petruk. Saya mendapatkan kelapa itu jatuh sendiri” tangkis Bagong cepat.

‘Tapi kenyataannya, kamu bawa kelapa dari kebonnya kang Gareng. Itu berarti ngambil milik orang lain. Bisa disebut mencuri. Melanggar undang lho Gong? Kamu bisa dihukum” pesan Petruk tegas.

Dialog mengenai hukum semacam Itulah yang disisipkan oleh Bryant dengan maksud agar masyarakat penggemar wayang kulit semakin melek hukum. Dia menyadari, lewat kesenian tradisional seperti pagelaran wayang kulit, missi tertentu bisa disampaikan dengan efektif. Bryant sengaja memilih tema hukum setiap kali mendalang.

Dalang Millenial

Beberapa tahun belakangan ini, di Ambulu muncul dalang remaja. Bryant Bagus Prakoso, nama lengkapnya. Saat ini masih tercatat sebagai siswa kelas XI IPA SMA BIMA. Saat diwawancara, remaja murah senyum ini berharap masyarakat tidak hanya mendapatkan guyonan yang berbau pornografi. Namun, ada edukasi bagi warga masyarakat kelas menengah ke bawah setiap kali mereka menonton wayang kulit.

Sejak kecil Bryant sudah senang gambar wayang. Entah mengapa, setiap kali diajak sang kakek, Suparno, jalan-jalan, Bryant kecil selalu meminta dibelikan gambar-gambar wayang. Kakeknya itu belakangan diketahui suka nonton pagelaran wayang kulit. “Seingat saya, sejak umur 3 tahun,saya sudah suka gambar-gambar wayang” ungkapnya.

Cowok kelahiran 11 Maret 2003 ini sudah mantap memilih mendalang wayang kulit sebagai profesi. Kebetulan, di wilayah Ambulu dan Jember Selatan pada umumnya, bak jamur di musim hujan adanya dalang-dalang dari kalangan generasi milenial. Kompetisi antardalang muda tidak saja bagus untuk meningkatkan performance tapi juga sekaligus membaggakan kita semua.

Putra pasangan Agus Sujono dan Ika Agustin ini merasa bangga karena sudah mendalang semalam suntuk. Lakon yang dimainkan yaitu Abimanyu Dakwo. Kiprahnya itu sangat membanggakan dirinya.

Sedangkan yang biasa dilakoninya setiap kali diajak pembinanya, Bryant selalu mendalang pada siang hari. “Saya sangat bersyukur mendapatkan bimbingan dan binaan dari Ki dalang Edy Siswanto”.

Lelaki penggemar makanan berbahan telur ini mengajak generasi milenial untuk kembali mencintai seni-seni tradisi para leluhur. “Kesenian tradisional apa pun, penuh dengan pesan-pesan moral.dan kepribadian bangsa Indonesia,” tegasnya.

Ekskul Pedalangan dan Karawitan

Dalang Millenial

Sejak berdiri tahun 1980, SMA BIMA Ambulu telah meluluskan ribuan alumni. Para alumni itu ikut serta dalalm membangun bangsa dengan menekuni berbagai profesi di jajaran pemerintahan maupun swasta.

Dengan motto Tiada Hari Tanpa Prestasi dan Kreasi, lembaga pendidikan di bawah Yayasan Pendidikan Setya Budhi itu kini mendidik dan membina 1.100 siswa pada dua program study IPA dan IPS. Selain kegiatan intrakurikuler (pembelajaran materi sesuai kurikulum), ada juga kegiatan ekstrakurikuler.

Saat ini para siswa dapat mengembangkan bakat melaui berbagai ekskul yang tersedia. Ada ekskul olahraga. Ada ekskul di bidang seni, termasuk seni pedalangan dan karawitan. Selain itu masih ada kegiatan ekstra baru yakni otomotif dan tata boga (masak-memasak). Para siswa juga diberi kesempatan untuk mengembangkan ilmu yang disukainya lewat kegiatan sanggar brlajar. Tersedia sanggar Bahasa Inggris, sanggar Matematika, Kimia, Fisika, Biologi, Ekonomi, klub fotografi dan jurnalistik.

Drs. Miyarto selaku pembina ekskul pedalangan dan karawitan menekankan kepada para peserta ekskul agar tetap berlatih meskipun kondisi belum normal untuk saat ini. “ Para dalang milenial bisa berlatih suluk sedangkan para sinden bisa menghafalkan beberapa tembang,” tegasnya. (sr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *