Menulis Puisi, Dimana Sulitnya?

Samiadi Rahman,SPd.

Samiadi Rahman,SPd.

Oleh: Samiadi Rahman, SPd.

Gak sulit sama sekali. Meminjam pendapat Arswendo Atmowiloto, Menulis Itu Gampang. Maka, menulis puisi, yang rata-rata lebih pendek daripada cerita atau prosa, tentu lebih gampang lagi.

Malam Lebaran adalah sebuah judul puisi karya Sitor Situmorang. Dan, jangan kaget. Puisi tersebut hanya berisi satu baris saja yaitu : bulan di atas kuburan. Soal apakah makna puisi itu sulit dipahami? Itu soal lain. Tentu, setiap kepala punya pendapat sendiri. Hanya saja, dalam hal ini, sebaris judul dan sebaris isi pun sudah tergolong puisi.

Mbah Geogle memberi tahu kepada kita bahwa puisi pendek semacam yang ditulis oleh penyair Sitor itu disebut epigram. Penjelasan lengkapnya sbb: epi·gram /épigram/ n Sas 1 syair atau ungkapan pendek yang mengandung gagasan atau peristiwa yang diakhiri dengan pernyataan menarik dan biasanya merupakan sindiran; 2 peribahasa yang padat dan penuh kearifan dan sering mengandung paradoks.

Mari kita perhatikan epigram karya Taufik Ismail { sumber : buku Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, hal 3 }

TAKUT ’66, TAKUT ’98

Mahasiswa takut pada dosen Dosen takut pada dekan Dekan takut pada rektor Rektor takut pada Mentri Mentri takut pada presiden

Presiden takut pada mahasiswa

Proses penulisan, sekedar satu puisi pun, masih banyak dikeluhkan oleh berbagai kalangan. Ada yang bingung memilih kata atau diksi. Padahal, kita sering corat-coret buku dengan sebaris dua baris frasa.

Memang, kegiatan menulis lazimnya didahului oleh kesukaan membaca. Lewat aktivitas membaca buku, status di FB, IG, Twitter, dan lain-lain, kita akan kaya dengan sendirinya. Kaya kosa kata, tentunya Dengan demikian, gak ada ceritanya, menulis puisi, itu sulit. Mulailah dengan menulis epigram.

Sebagai ilustrasi. Lihatlah gunung di kejauhan pada saat cuaca cerah. Bisa jadi, tangan segera angkat pena, mencabut secarik kertas di kantong baju (kita harus menyiapkan alat tulis karena ide itu bagaikan kilat, melintas sebentar dalam pikiran), kemudian srat-sret tertulislah, misalnya : gunung itu berdiri kaku berwarna biru.

Secara harfiah, penggambaran gunung seperti itu sah-sah saja. Tidak salah. Dalam dunia sastra, nggak dikenal istilah salah. Yang ada, setiap karya ada kalanya masih kurang bernas, terhitung masih enteng, atau belum memiliki estetika secara utuh, dan lain-lain. Perlu pula dicatat bahwa menulis puisi tidak dibutuhkan beberapa syarat mutlak. Sebuah puisi bisa saja ditulis dengan memerhatikan persamaan bunyi tanpa memedulikan adanya makna kias atau lambang. Namun, ada kalanya, sebuah puisi ditulis dengan mengutamakan sampainya pesan dan sedikit mengabaikan jumlah kata tiap baris atau adanya persamaan bunyi yang ketat.

Persyaratan menulis puisi pada buku pelajaran bahasa Indonesia, justru membunuh kreativitas. Tidak. Menulis puisi itu tidak perlu mengernyitkan dahi dan memompa energi. Perhatikan puisi A. Mustofa Bisri berikut:

Guruku

Ketika aku kecil dulu dan menjadi muridnya Dialah di mataku orang terbesar dan terpintar Ketika aku besar dan menjadi pintar

Kulihat dia begitu kecil dan lugu Aku menghargainya dulu Karena tak tahu harga guru Ataukah kini aku tak tahu Menghargai guru?

(1987)

Makna Kias

Sebuah kata bisa bermakna lugas, apa adanya, sesuai yang ada di kamus. Namun, bisa juga sebuah kata menyuguhkan arti kiasan, ada makna lain dibalik makna lugas. Misalnya, kita sedang berdiri di tepi pantai.

Biasanya, kita mula-mula mengagumi luasnya laut yang tidak terbatas itu. Kita terpesona akan suara ombak, warna putih buihnya, sejuknya angin laut yang berhembus, terbangnya burung- burung camar yang menukik ke permukaan laut untuk mencari ikan.

Serangkaian kekaguman terhadap laut itu tampak jelas masih ditulis secara harfiah. Semua kata masih menyembulkan makna lugas. Coba kita perhatikan sebait puisi yang ditulis oleh Jamaludin GmDas, seorang mahasiswa IAIN Purwokerto berikut.

Si Tuli Dari Tanah Balkh:

Syaikh Hatim Al Asjom

(1) “ Jika ada suara-suara rahasia yang meledak tiba-tiba, tampung saja

di telinga tuliku ini,” ucap si tuli dari dalam hati sambil melayani seorang

perempuan yang sedang membeli hidup

di warungnya yang sejuk

( Koran Tempo, Sabtu, 6 Juni 2020 )

Ada banyak makna kias pada sebait puisi di atas. Ada pun maksud atau isi puisi itu juga bergantung pada penafsiran kita masing-masing. Jadi, puisi harus sulit? Ya, enggak dong? Tapi, ada persyaratan khusus, kan?

Secara rinci gak ada. Yang prinsip, ada niat dan semangat menulis puisi yang tak henti-henti. Kapan pun dan dimana pun. Berbekalah ball point dan kertas untuk menuliskan sebaris kata atau frasa yang sedang melintas di dalam tempurung kepala kita. Langkah selanjutnya, memulai menulis. Bisa jadi, menentukan judul, atau melanjutkan baris yang sudah kita tangkap tadi.

Jadi… menulis puisi, dimana sulitnya? Ayo jadi penyair. Sekarang juga. ( sr )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *