22/10/2021

Pelajar SMAN 01 Kencong Meninggal Dunia Usai Divaksin

situsTalenta.com –  Seminggu setelah divaksin, Ananda Rahel Pratama (15), pelajar kelas X SMAN 1 Kencong meninggal dunia.

Kronologi dari peristiwa tersebut bermula saat Rahel mengikuti vaksinasi pada 10/9/2021. Vaksinasi tersebut dilakukan di sekolahnya yang difasilitasi Puskesmas Cakru Kencong.

Setelah divaksin, dalam kurun waktu sepekan daya tahan tubuhnya menurun. “Setelah disuntik itu dia mulai tidak enak, muntah, perut mual, panas dingin dan perutnya kaku,” terang kakek korban, Ahmad Sholeh Yusuf pada Senin (4/10/2021).


Pada Minggu, 19 September 2021, kondisi korban semakin memburuk dengan merasakan kram usai bangun tidur. Kemudian pada siang harinya kaki Rahel membengkak.

“Masih bisa berjalan, tapi seperti orang stroke,” tambah Yusuf.

Selanjutnya, Rahel dibawa ke RSD Balung, namun nyawanya sudah tidak dapat diselamatkan. Akhirnya, jasad korban dibawa pulang untuk dimakamkan.  


Menurut kakek korban, dalam surat keterangan vaksinasi, tidak terdapat keterangan nomor yang dapat dihubungi saat ada keluhan. Akibatnya, keluarga korban pun tidak dapat menindaklanjuti.

Namun demikian, keluarga korban sebenarnya sudah ikhlas menerima kejadian tersebut. Hanya saja yang disesalkan adalah ucapan tenaga kesehatan Puskesmas Cakru yang sempat datang bertakziah ke kediaman korban.


Ketika pihak keluarga bertanya kenapa dalam surat vaksin tidak ada keterangan nomor yang bisa dihubungi saat ada keluhan.  

“Petugas itu bilang, ‘iya saya yang salah, terus mau minta apa’,” cerita Yusuf menirukan ucapan tenaga kesehatan. Ucapan tersebut disampaikan sebanyak empat kali. Karena ucapan itu dinilai menyinggung perasaan keluarga korban, Yusuf meminta pihak Puskesmas untuk  meminta maaf atas pernyataan tersebut.

“Keluarga meminta agar nakes tersebut meminta maaf,” kata Ketua DPC Lembaga Perlindungan Konsumen (LPK) RI Jember Lukman Winarno.

Menurut Lukman, tindakan nakes Puskesmas Cakru tersebut dinilai melanggar kode etik yang melekat dalam UU Nomor 36 Tahun 2014 tentang tenaga kesehatan. 

Pernyataan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jember

Berdasarkan hasil penelusuran Dinas Pendidikan Wilayah Jember, dua hari setelah divaksin korban sempat main bola bersama teman-temannya.

“Hari Jumat dia divaksin, Minggu-nya masih sempat main sepak bola bersama teman-temanya,” terang Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Jember Mahrus Syamsul pada Senin (4/10/2021).

Korban menurut Mahrus memang atlet sepak bola. Bahkan pada hari Senin, Rahel masih berangkat ke sekolah seperti biasa dan lanjut bermain sepak bola pada hari Selasa.

Namun demikian, Mahrus tidak dapat menyimpulkan penyebab meninggalnya Rahel. Dia hanya meyakini bahwa vaksinasi tidak menyebabkan orang meningggal dunia, karena banyak pelajar dan masyarakat yang juga mendapat vaksin untuk mencegah penularan Covid-19.

Bahkan vaksinasi bagi pelajar SMA/SMK di Jember merupakan kewajiban karena untuk dapat mengikuti pembelajaran tatap muka siswa harus sudah divaksin. 

Hampir semua pelajar di Jember sudah menerima vaksin dosis pertama.  “Jika itu menyebabkan kematian, bisa mati semua anak-anak itu,” ungkap Mahrus.

Penjelasan Plt Kepala Dinas Kesehatan Jember

Menanggapi kasus meninggalnya pelajar SMA Negeri 01 Kencong usai divaksin, Plt Kepala Dinas Kesehatan Jember, dr Lilik Lailiyah memastikan bahwa kematian Rahel bukan disebabkan karena vaksinasi.

“Berdasarkan hasil analisa tim medis, tidak ada hubungannya dengan vaksinasi,” kata Lilik tanpa menyinggung secara rinci penyebab dari meninggalnya korban. Terlebih jarak antara vaksinasi dengan meninggalnya korban rentang waktunya lebih dari delapan hari.

Terkait dengan pernyataan nakes Puskesmas Cakru yang dinilai menyakiti hati keluarga korban, menurut Lilik sudah ditindaklanjuti. “Nakes dan Kepala Puskesmas sudah kami panggil untuk klarifikasi dan mereka sudah mendapat pembinaan.”

Sedang untuk surat vaksinasi yang tidak mencantumkan nomor kontak keluhan, menurut Lilik merupakan kelalaian vaksinator. 

Setiap masyarakat yang mendapat vaksinasi, seharusnya memperoleh surat keterangan yang berisi nomor kontak jika ada keluhan. “Namun karena manusia, barangkali lupa. Seharusnya itu tidak terjadi.”


Untuk itu pihak Dinkes mengingatkan tenaga kesehatan terkait agar tidak mengulang kejadian yang sama. (SPKA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *