Puisi-Puisi Banyu Bening

Banyu Bening

Hujan Mei

Mei, tak sepatutnya masa kau datang

Gemercik bahagia kurasa

Atau lembut air keabadianmu

Dinginmu menusuk paruh jiwaku

Dan lemahkanku

Tetes hujan lampiaskan tangis alam

Mega mendung adalah sepimu

Betapa dingin kian menikam paruh jiwaku yang lain

Begitu dingin di sini

Datangnya yang begitu cepat

Tak sepatutnya

Mei, bukanlah masa untukmu kemari

Lalui pancaroba kemarin

Dan engkau tak kan pahami

Engkau pembawa cemas kalbu

Datangmu bukanlah yang kuharap

Jiwa yang menanti panceklik keluhkan datangmu

Kau hancurkan harap mereka

Dan kau tetap tusukku

Begitu dingin

Pergimu adalah yang tiada

Banjiri mimpi siangku dengan bisingmu

Atau air yang cemari jiwaku

Begitu aku merana karenamu

Dan mohonku padamu

Hentikan langkahmu

Hentikan angin kepedihanmu

Engkau hujan yang tak kan sirna

Dua paruhku terjebak dalam rumitnya waktu

Pergimu tak kan kekal

Sang Angin

Angin pegunungan semilirkan udara

Sejuknya lalui pepohonan pada lembah kematian

Dan dedaunan hijau tengah lintasi

Lintasi bumi hijauku

Dan angin laut tiup para nelayan

Perahu kertas mereka melaju

Lajunya berkejar dengan waktu

Bila fajar tibalah masa kembalinya

Mega mendung menadah hujan

Kemarau terik ini sudahlah membusuk

Dan bagaimana angin hembuskan uap-uap suka cita

Dan buih-buih air yang menari di udara

Kala langit tersenyum pahit

Dan dia lah sang angin

Angin saja

Dengarlah deru angin

Dia tiupkan bahagia manusia

Bumi hijau pertanda upayanya

Lembah bukti bawa sepoinya

Dan dia terseduh menangis

Dengarlah tangis angin malam

Perihnya hantarkan mimpi-mimpi kelammu

Dibawah langit bintang utara

Pekat malam telan dukanya

Dia pandang debu-debu kehancuran

Dan muramnya bawa bencana

Riuh pudarkan damainya bumi

Telan segala yang dilaluinya

Betapa dia tak memandang hadapnya

Betapa dia bunuh segala yang mengusiknya

Dengarlah angin yang tersenduh menepi

Dan segala perkara setia temaninya

Yang mampu membunuh perlahan

Dan aku hanya mendengar jerit tangisnya

Begitu pedihnya

Terlelap dalam taburan kegelapan

Lapar

Perutku lapar!

Ah, betapa jarum jam berdiri tengah menengadah

Aku lapar!

Hey, terbenamlah mentari

Wanita tua yang berpeluh lelah

Bersiaga sayuran dia basuh

Beribu mikroba terlewat

Ah, tak apa lah!

Aku masih lapar!

Aku termangu sejenak

Tiup angin tengah hari ini bawa terik

Ah, bagaimana tubuhku meronta

Dan bagaimana perutku bersenandung seirama

Aku masih saja lapar!

Ulasan

Oleh: Samiadi Rahman, Spd

Banyu Bening

Penyair Muda Berbakat

Sosok lelaki ganteng ini masih duduk di kelas IX SMPN 1 Ambulu. Kebiasaan menulis puisi tidak lepas dari kegemarannya membaca buku-buku tebal dengan topik yang berbeda. Ada buku yang mengupas perihal kesenian, tokoh-tokoh sukses, politik, ekonomi, sosial dan cerpen serta puisi.

Aktivitas literasi sudah on sejak kecil. Ayahnya, Winasis Sasmito selalu membawa oleh-oleh buku setiap kali pulang dari bekerja di luar kota.

Kelahiran 30 November 2004 ini suka banget menikmati nasi goreng. Kebiasaan bertapa di kamar tidak hanya sekedar bermalas-malasan. Ia memanfaatkan waktu itu untuk merealisasikan ide- idenya. Jadilah beberapa puisi. Tiga di antaranya tersaji pada edisi kali ini.

Walaupun masih belia dari segi usia, namun puisi yang ditulis cukup bernas. Pada puisi Hujan Mei, ia berseru : tak sepatutnya masa kau datang. Banyu tidak berharap hujan datang pada bulan Mei.

Entah apa sebabnya. Hanya dia yang tahu. Engkau pembawa cemas kalbu. Bahkan ia berteriak, Hentikan langkahmu, Hentikan angin kepedihanmu. Satu ungkapan yang sangat pelik untuk dicerna anak muda sebaya dia, bahkan orang dewasa sekali pun yang tidak terbiasa bersentuhan dengan kehalusan jiwa.

Setelah menyapa Hujan, penggemar lagu-lagu Paterpan ini juga menyapa Sang Angin. Kita diajak untuk memahami sang bayu itu. Rupanya anak ketiga dari tiga bersaudara ini paham betul terhadap derita sang angin. Dan aku hanya mendengar jerit tangisnya. Begitu pedihnya. Terlelap dalam taburan kegelapan.

Pada puisi Lapar, putra Eny Winarni, guru SMA BIMA ini, menyampaikan rasa laparnya dengan spontan. Meskipun demikian ia menaruh perhatian pada sosok ibunya yang dengan telaten menjaga higienitas makanan yang diolahnya. Wanita tua yang berpeluh lelah. Bersiaga sayuran dia basuh.Beribu mikroba terlewat. Sukses selalu ya Banyu ( sr).

1 thought on “Puisi-Puisi Banyu Bening

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *