22/10/2021

Satukan Kebhinekaan di Tengah Pandemi COVID-19

Oleh: Sumaji, S.Pd.

HUT Kemerdekaan RI ke-76 tahun ini masih harus kita peringati dalam suasana penuh keprihatinan karena pandemi COVID-19 masih belum juga sirna. Pandemi tersebut tidak hanya menelan korban lebih dari seratus ribu jiwa di Indonesia dan jutaan orang di seluruh dunia, tapi juga meluluhlantakkan sektor-sektor yang lain.

Dampak lebih lanjut dari teror pandemi yang belum juga surut tersebut adalah terkikisnya stabilitas nasional oleh berbagai faktor, seperti tekanan ekonomi yang dihadapi masyarakat, ancaman resesi dan berbagai efek domino lainnya yang dapat memicu terjadinya konflik sosial.

Kondisi tersebut menjadi lebih parah lagi dengan munculnya oknum-oknum yang dengan sengaja  berupaya untuk mendelegitimasi kinerja pemerintah utamanya dalam penanganan COVID-19 dengan menyebarkan ujaran kebencian, menyebarkan berita bohong dan berbagai praktik penggiringan opini publik yang dapat mengancam stabilitas nasional.

Kita tentu tidak berharap persatuan dan kesatuan negara yang kita bangun selama 76 tahun ini tercerai berai oleh ulah oknum-oknum tidak bertanggungjawab yang memanfaatkan situasi pandemi untuk kepentingan pribadi dan golongannya dengan mengorbankan kepentingan bangsa dan negara.

Berbagai upaya untuk mencerai-beraikan kebhinekaan yang tengah terjangkit pandemi ini harus kita lawan, karena untuk membangun persatuan dan kesatuan tidak cukup hanya dilakukan oleh pemerintah, tapi harus mendapat dukungan sepenuhnya dari seluruh anak bangsa.

Untuk membangun persatuan dan kesatuan dalam menghadapi pandemi COVID-19 dan melawan berbagai upaya yang ingin mencerai-beraikan keberagaman yang kita miliki, salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila dan memaknai arti Bhineka Tunggal Ika.

Bukan tanpa alasan para pendiri negara ini dulu menukil Kakawin Suta Soma yang ditulis oleh  Mpu Tantular untuk dijadikan semboyan bangsa, yaitu Bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa ( berbeda-beda tetapi tetap satu, tiada dharma yang mendua).

Pluralitas dan heterogenitas pada bangsa ini harus bersatu untuk dapat menghadapi berbagai tantangan yang menghadang. Pada jaman penjajahan, tantangan tersebut adalah mengusir para penjajah dari bumi Indonesia, pasca kemerdekaan tantangannya adalah menyingkirkan duri-duri yang menghalangi jalannya pembangunan dan dimasa pandemi seperti sekarang ini tantangannya tidak lain adalah melawan penyebaran virus COVID-19 dan melawan penyebaran berita-berita hoax yang dapat merusak kerukunan hidup berbangsa dan bernegara.

Melawan  penyebaran virus COVID-19 dapat dilakukan dengan bersatu padu dalam mematuhi dan menjalankan instruksi pemerintah terkait peningkatan disiplin dan penegakan protokol kesehatan dalam pencegahan dan pengendalian Covid-19 serta ikut mensukseskan program vaksinasi.

Sementara untuk melawan penyebaran berita-berita hoax yang dapat merusak kerukunan hidup berbangsa dan bernegara adalah dengan bersikap bijak dalam mencerna setiap informasi yang dibaca, dilihat dan didengar.

Alhamdulillah kesadaran untuk menyatukan kebhinekaan tersebut masih dimiliki masyarakat Jember. Bahkan, para pemimpin dan pejabat di Kabupaten yang kita cintai ini ikut memberikan tauladan kepada masyarakat tentang bagaimana menyatukan perbedaan.

Bupati Jember misalnya dengan senang hati melakukan donor konvalesen untuk membantu masyakat yang terpapar COVID-19. Begitu juga dengan sejumlah pejabat dan tokoh-tokoh masyarakat yang lain.

Tidak hanya itu, partai politik, organisasi profesi, organisasi keagamaan hingga organisasi sosial juga turut terpanggil untuk membantu masyarakat yang tengah terjepit persoalan ekonomi akibat penerapan kebijakan PPKM Darurat maupun masyakat yang harus menjalani isoman karena terpapar COVID-19.

Beberapa diantaranya adalah Partai NasDem yang membantu penyemprotan disinfektan, memberikan bantuan vaksin, sembako serta masker, Perserikatan Wartawan Jember yang berkolaborasi dengan Solid dan HKTI yang memberikan bantuan APD, sembako dan membuka dapur umum bagi masyarakat yang terpapar COVID-19, dan berbagai institusi lainnya yang menunjukkan keperdulian mereka kepada masyarakat yang menjadi korban pandemi.

Menyatukan kebhinekaan itulah yang dibutuhkan pada saat sekarang karena bentuk dari kebhinekaan itu sendiri saat ini tidak hanya sebatas perbedaan suku, ras maupun agama, tapi juga perbedaan tingkat sosial, perbedaan ekonomi, perbedaan profesi, dan berbagai perbedaan lainnya.

Semakin banyaknya bentuk perbedaan seharusnya semakin memperkuat semangat kita untuk mempersatukannya. Karena hanya dengan menyatukan perbedaan, bangsa dan negara kita akan menjadi semakin kuat, utamanya disaat menghadapi pandemi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *