Siswa Sebenarnya Mau Dan Bisa, Kita Saja Yang Kurang Percaya Diri (Sekilas Tentang Metode Asimilasi Proses)

Akhmad Fauzi, S.Pd

Penulis adalah guru pada SMP Negeri 2 Jenggawah

Tahun 2002 saya mendapat kabar, siswa yang pernah saya bina di SMP menjadi Presiden Bengkel Teater di sebuah SMA ternama di Jember. Cukup menggelitik, karena ketika dalam binaan saya, di teater SMP, anak ini relatif pendiam. Ketika saya temui dia di sebuah kesempatan, saya melihat kenyataan jauh berbeda. Kemampuan aktingnya lumayan berisi. Sikap pendiamnya, dengan kaca mata tebal khas seriusnya itu, benar-benar tidak saya lihat lagi. “Pak, Bapak telah menanamkan dasar-dasar dramaturgi ke saya, saya merasa beruntung memiliki dasar itu”, ucapnya polos ketika saya ungkapkan rasa heran saya ke dia. Menjadi tamparan yang cukup telah bagi saya. Yah, berarti saya kurang memaksimalkan pengasahan potensi yang dimilikinya, dulu.

Itu kejadian belasan tahun yang lalu, memberikan gambaran yang jelas bagi saya betapa siswa begitu luas kesempatan untuk mempoles diri. Chris John bisa menjadi petarung tidak lepas dari piawainya “sang guru” membidik potensi yang dimiliki petinju kelas dunia itu kala masih di bangku kuliah. Pernah saya membaca di sebuah pemberitaan dan mendengar dari kisah dia di televisi, bagaimana kesehariannya ketika masih di bangku sekolah. Tiada hari tanpa berkelahi. Fenomena ini ditangkap dengan cermat oleh sang guru di sekolahnya. Maka benar langkah sang guru yang menitipkan Chris kecil kepada salah satu teman sang guru untuk dibina bakat bertarungnya.

            Siswa bukan angka, bukan ilmu pasti! Apa yang sekarang ia miliki merupakan “benih” yang sedang berputar-putar mencari pintu keluar untuk mengembangkan diri. Maka salah jika pola hitam putih diterapkan saat belajar bersama siswa. Itulah sebab mengapa mendidik berfokus memanusiakan manusia.

            Belajar dari pengalaman di atas, ada sedikit keyakinan dalam hati jika siswapun sebenarnya cukup bisa menerima pembelajaran sastra dengan baik. Ambiguitas yang selama ini disuarakan guru tentang sulitnya siswa dalam berekspresi, atau minimal mengapresiasi, menjadi titik tekan saya untuk menyibak “elitnya” pembelajaran apresiasi sastra (khususnya bermain peran) di mata dunia pendidikan (baik guru dan siswa).

            Tidak dapat dipungkiri, pembelajaran Apresiasi Sastra bagi kebanyakan guru seringkali dikeluhkan dengan bermacam alasan. Mulai dari keterbatasan media, minimnya pengetahuan awal siswa sampai pada keterbatasan stok ilmu yang dimiliki pendidik itu sendiri. Hal ini berlangsung relatif cukup lama di semua tingkat satuan pendidikan. Sehingga ada pola paten untuk pembelajaran ini, yaitu : teksbook unsich.

            Padahal Apresiasi Sastra ini untuk ukuran keterampilan berbahasa sangat diperlukan. Dengan sastra (termasuk mengapresiasi) hati terasa senang. Kesenangan hati menimbulkan terbukanya daya imajinatif. Semakin lebar wilayah itu melanglang buana, semakin kokoh daya nalarnya. Berangkat dari kedahsyatan daya nalar inilah, kendala ketercapaian kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa dapat tereleminasi. Bisa dipastikan, akan mudahnya dia untuk menuntaskan beban kompetensi di setiap mata pelajaran.

            Berdasar pemahaman di atas, penulis, dengan bekal pengalaman mengajar yang masih belum seberapa, mencoba mempetakan permasalahan ini. Dengan sedikit keberanian, penulis memutuskan untuk beraksi saja. Alhasil, lahirlah metode asimilasi proses ini untuk pembelajaran sastra (utamanya drama).

            Garis besar dari metode ini adalah mengintegrasikan beberapa metode dalam satu rangkaian proses, sehingga menjadi sebuah adegan yang kompak, baik di dalam maupun di luar pembelajaran. Diawali dengan pembekalan materi (metode : diskusi, tanya jawab, inquiri) dan diakhiri dengan unjuk kerja berupa pagelaran (metode : pemodelan, kooperatif learning, konstruktivistik, dan problem sulfing).

            Kenyataan yang telah saya laksanakan membuktikan, dari 126 siswa –yang notabene- masih asing dengan dramaturgi, ketika diajak berselancar dengan metode asimilasi proses, mereka dapat  menikmati ajaibnya dunia sastra. Satu pernyataan yang masih terngiang, “kapan lagi pak…!?”. lebih dari itu, dari 12 kelompok yang terbentuk, 3 kelompok dinyatakan belum tuntas (hanya 25%).

            Metode ini diawali dengan pembelajaran (2 kali pertemua / 4 x 40 menit) di kelas VIII A-C. Selama 2 kali pertemuan itu 8 metode (diskusi/tanya jawab, inquiri, pemodelan, penugasan, keterampilan proses, konstruktivisme, kooperatif  learning, dan problem dulfing) silih berganti diterapkan. Diakhir pembelajaran pertemuan 2, yang berarti bekal dasar siswa sudah dianggap memadai, guru member penugasan secara berkelompok. Penugasan berupa mengkolaborasikan hasil pembelajaran yang telah diberikan dengan daya kreasi dan imajinasi siswa, dalam bentuk berlatih drama.

            Duabelas kelompok yang terbentuk (masing-masing kelas 4 kelompok) berproses di luar kelas. Selama proses luar tersebut, guru memfasilitasi (dalam bentuk pemantauan, konsultasi, dan sharing) atas segala hambatan dan inovasi kreatif kelompok. Proses ini berjalan lebih kurang 1,5 bulan.

            Satu minggu sebelum pagelaran, guru mengadakan pertemuan tehnis dengan :

  1. Wakil kelompok dari kelas VIII, membicarakan tentang kesiapan dan kendala ujung pagelaran;
  2. Wakil kelommpok dari kelas VII-IX, membicarakan tentang sistem penilaian yang harus dilakukan.

Jadi, siswa kelas VIII beriuh rendah mempersiapkan pementasan, siswa kelas VII-IX mempersiapkan penilaian.

          Ketika pagelaran berlangsung, nuansa yang ada adalah hari ini SMP Negeri 2 laksana panggung kecil dari besarnya giroh apresiator-apresiator pemula. Kiat cerdas yang mengkondisikan 326 harus berperan aktif (memerankan dan menilai) menyebabkan detik demi detik adalah pembelajaran, tanpa dirasa oleh yang sedang belajar. Kala itu, tertepis sudah anggapan bahwa sastra (apalagi bila yang menampilkan adalah pemula) terasa hambar. Hal itu tidak terjadi !

          Proses ini menghasilkan unjuk kerja, diskusi-diskusi, tanggapan-tanggapan, sekaligus penilaian. Pembelajaran mengharuskan adanya penghargaan, dan itu terasa ringan untuk dipenuhi.

          Proses ini masih berlanjut pada pembelajaran (berbentuk refleksi 1×40 menit) yang dikolaborasi dengan KD yang berdekatan (Sinopsis untuk kelas VIII dan Unsur Intrinsik cerita untuk kelas VII-IX).

           Lengkap sudah konsumsi ilmu mereka. Apakah sudah selesai? Jauh, Asimilasi proses ini sekarang berada di tangan siswa, dalam bahasa sederhananya, mereka sudah siap di titik tumpu awal khazanah sastra yang dahsyat!

Selamat berselancar dengan METODE ASIMILASI PROSES untuk pembelajaran sastra

Selamat mencoba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *