22/10/2021

Totok S Mianta, Sosok Wartawan yang Memperjuangkan Nasib Para Petani

Totok S Mianta

Totok S Mianta

JEMBER, situstalenta.com – Nama Totok S Mianta tentu sudah tidak asing lagi bagi kalangan awak media di Jember, karena sepak terjangnya di dunia jurnalistik sudah lebih dari dua dasawarsa.

Tepatnya sejak bergabung di harian Pelita Jakarta sebagai Kepala Biro Besuki pada tahun 1990an atau saat dia masih menempuh kuliah di Universitas Muhammadiyah Jember.

Karirnya sebagai wartawan berlanjut dengan bergabung di Radar Jember pada tahun 2000. Bersama harian yang menjadi bagian dari Jawa Pos Grup ini, Totok sempat beberapa kali berpindah tempat tugas.

Tiga bulan di Jember dia dipindahtugaskan ke Bondowoso, setelah itu ditarik lagi ke Jember, kemudian dipindah ke Lumajang sebelum akhirnya ditempatkan lagi di Jember, sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah kerja ke harian Memo.

Hijrah ke Bidang Pertanian

Perjalanan hidup sulit untuk diduga. Totok yang sebelumnya begitu menikmati aktifitasnya di dunia jurnalistik, akhirnya berbelok arah dengan menekuni bidang pertanian. Keputusannya untuk terjun di bidang pertanian muncul setelah hijrah ke Desa Karangbayat, Kecamatan Sumberbaru, Jember.

“Saat di kota, pikiran saya hanya sebatas mencari dan mengolah berita. Tapi ketika di desa, muncul ide dan gagasan tentang bagaimana memanfaatkan potensi yang ada di desa untuk dibawa ke kota,” terangnya.

Dengan masih menyandang status sebagai anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jember, Totok pun selanjutnya menggeluti dunia pertanian. Tidak hanya bercocoktanam, dia juga berusaha memanfaatkan melimpahnya air di pedesaan dengan budidaya ikan lele.

Totok S Mianta

Berangkat dari menekuni pertanian itulah dia kemudian bergabung dengan Paguyuban Petani Jember (Panijem). Pertama kali bergabung dia tidak menjadi anggota, tapi langsung dipercaya sebagai penasihat.

Selang beberapa tahun kemudian, Ketua Panijem (Supar) meninggal dunia sehingga jabatan ketua untuk sementara waktu Pjs. Karena selama dipegang oleh Penjabat sementara oleh anggota dianggap kurang ada perkembangan maka pada bulan Pebruari yang lalu diadakan pemilihan ketua dan dalam pemilihan tersebut Totok terpilih sebagai Ketua Paguyuban Petani Jember.

“Awal saya menjabat sebagai Ketua, seluruh anggota langsung saya kumpulkan. Tujuannya adalah untuk mengetahui potensi dari masing-masing anggota di bidang pertanian. Ternyata diantara petani yang menjadi anggota Panijem tersebut ada yang berhasil menemukan pupuk organik dalam bentuk granul atau padat dan dalam bentuk cair,” cerita Totok.

Temuan pupuk organik tersebut oleh Totok dan beberapa orang anggota Panijem selanjutnya diaplikasikan pada tanaman pertanian masing-masing dan tahap selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk diteliti kandungannya.

Ternyata hasilnya luar biasa.Tanaman hasil pertanian yang diberi pupuk organik tersebut tidak saja tumbuh dengan subur tapi hasil produksinya juga mengalami peningkatan.

Begitu juga dengan hasil uji lab. Berdasarkan hasil analisa laboratorium diketahui bahwa   untuk kode C Organik tembus 8,34, kode N tembus 0,44, kode P tembus 1,95, kode K2O muncul 0,68, kode Ca tembus 0,547, kode Mg tembus 0,030, kode CI muncul 0,014, kode C/N tembus  18,95, kode Fe muncul 3,52 dan kode pH tembus 7,15.

“Artinya, dari hasil racikan yang  dilakukan anggota Panijem  telah ditemukan  kandungan C organik yang tinggi dan berdasarkan informasi dari para pengguna pupuk organik kandungan C organik dari pupuk yang dihasilkan anggota Panijem tersebut di Jember masih belum  ada yang menandingi keunggulannya,” papar Totok.

“Saya sempat ngobrol dengan  Anwarul dan Herman sebagai saksi yang pernah mendampingi saat uji coba dengan para pakar organik lainnya, mereka heran  karena kandungan C Organik  kok bisa tembus setinggi itu. Karena dengan tingginya kandungan C Organik itu jelas kondisi tanah akan cepat pulih menjadi subur, tidak usah menunggu lama lama,” tambah Ketua Paguyuban Petani Jember ini.

Berharap Uluran Tangan Pemerintah

Berbicara tentang manfaat dari pupuk organik, menurut Totok manfaatnya sangat kompleks, mulai dari membenahi unsur tanah hingga menyuburkan serta menyehatkan tanaman.

“Tanah kita sudah terlalu lama memakai kimia. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan UNEJ, tanah pertanian di Jember dan sekitarnya memiliki kandungan keasaman dibawah tiga, padahal idealnya tingkat keasaman tanah pada kisaran lima. Karena itu, jika dipaksakan pada tanaman dengan penggunaan pupuk kimia, hasilnya bukan tambah bagus tapi malah tambah rusak. Para pakar menyampaikan kalau tanah kita ini sudah tidak sehat dan satu-satunya solusi adalah penggunaan organik,” terang Totok panjang lebar.

Dengan dasar itulah Totok bersama anggota paguyuban yang dipimpinnya terus berusaha menyosialisasikan penggunaan pupuk organik kepada para petani. Tidak hanya itu, dia juga berusaha meningkatkan produksi pupuk organik tersebut agar dapat memenuhi kebutuhan seluruh petani yang ada di Jember dan sekitarnya.

Namun sayang, upaya untuk meningkatkan kapasitas produksi dari pupuk organik yang selama ini dibuat dengan cara home industri terkendala oleh modal. “Saat ini kami baru bisa memproduksi sekitar 2 – 5 ton setiap harinya. Kapasitas tersebut hanya dapat memenuhi sebagian kecil saja dari kebutuhan para petani,” terang Totok.

Karena itu, Ketua Panijem ini mengharap uluran tangan dari Pemerintah Kabupaten Jember guna mendirikan industri pupuk organik dengan kapasitas produksi yang lebih besar. Langkah untuk meminta perhatian Pemkab sudah dilakukan dengan mengirimkan Surat Permohonan kepada Bupati pada bulan Maret 2021 yang lalu.

Namun hingga bulan Juli 2021 belum ada respon sama sekali dari Bupati. Bahkan saat ditanyakan ke sekretariat, surat permohonan tersebut katanya masih belum dibaca oleh Bupati.

“Karena sektor pertanian merupakan salah satu program prioritas dari Bupati, harapan saya Bupati bersedia merespon, meminta saran dan masukan dari petani, seperti apa pertanian semestinya digarap. Seluruh paguyuban petani semestinya dikumpulkan. Jangan pilih kasih. Karena belum tentu organisasi atau paguyuban yang besar punya keistimewaan, sebaliknya paguyuban yang kecil pun tidak jarang memiliki kelebihan yang layak untuk ditularkan kepada petani lain,” ungkap Totok.

Ketua Panijem ini juga menambahkan agar tim-tim ahli Bupati dan para akademisi yang mendampingi Bupati bisa bersikap jujur dan fair. Jika ada petani yang memang memiliki keahlian khusus, berikan apresiasi kepada petani tersebut. Jika ada petani yang berhasil menemukan pupuk organik bagus, katakan bagus dan jangan ditutup-tutupi, agar sektor pertanian di Jember dapat semakin berkembang.

Totok sangat berharap ada uluran tangan dari Pemkab untuk dapat memperbesar kapasitas produksi pupuk organik yang dihasilkan Panijem, karena hasil produksi dari home industri pembuatan pupuk organik tersebut selama ini masih belum dapat memenuhi permintaan anggota Panijem yang jumlahnya kini sekitar 200 orang petani.

Padahal kualitas dari pupuk organik tersebut sudah tidak diragukan lagi dan tidak hanya dibutuhkan oleh anggota Panijem saja tapi juga oleh par petani yang ada di Jember dan sekitarnya. (Maji)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *