Yuli Feri Widyawati, S.Pd : Membuat Mainan Edukasi

Yuli Feri Widyawati

Where there ia a will, there ia a way. Dimana ada kemauan, di situ ada jalan.

JEMBER, situstelanta.com – Suasana kelas VIII B saat itu ramai. Beberapa anak lelaki mondar-mandir. Tidak duduk manis. Sementara, sebagian murid perempuan ngerumpi dengan teman sebangku dan teman di bangku belakangnya. Mereka tak acuh terhadap jam pelajaran IPA. Guru yang berbusa-busa menjelaskan rumus, dicuekin. Pembelajaran Fisika tanpa alat peraga dan praktikum sama dengan Fisika Sastra!

Mendapati kondisi kelas yang tidak kondusif, Yuli Feri Widyawati, S.Pd, sebagai pengampu mapel IPA ( Biologi dan Fisika), tidak marah. Ia lantas berpikir keras. Dirinya tertantang untuk membuat mainan edukasii.

Yuli Feri Widyawati
Yuli Feri Widyawati

Dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar, jadilah alat peraga yang murah, efektif dan sesuai dengan tingkat pemahaman para muridnya. Rasanya sulit apabila menunggu droping alat peraga dari lembaga. Maklumlah, alat peraga bukan prioritas belanja barang yang tergolong prioritas utama.

Bu Yuli, sapaan akrabnya, ini lahir di Jember, 13 Juli 1973. Dari sekian banyak alat peraga, beberapa di antaranya dijadikan bahan Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Berbekal Laporan PTK itu, Bu Yuli mengikuti berbagai lomba tingkat nasional. Hasilnya pun, membanggakan dirinya, keluarga, rekan sejawat dan lembaga pendidikan tempat dirinya bekerja.

Saya Bisa

Sewaktu di SMA, Bu Yuli muda pernah merasa sensi ketika tugas Fisikanya ditanggapi dengan senyum misteri oleh sang guru. Sebuah penilaian yang merendahkan atau menyepelekan, batinnya, saat itu. Hal itu yang kemudian mendorong dirinya memilih prodi Fisika di FKIP Universitas Jember, melupakan cita-citanya menjadi tenaga kesehatan sesuai harapan ayah tercintanya.

Setelah lulus SMP, Pak Naro, sapaan akrab pak Jadi Pramana, ayah Bu Yuli, sebelumnya memang bersikeras agar putri pertamanya melanjutkan di SPK (Sekolah Perawat Kesehatan). Dulu untuk menjadi perawat, cukup dibutuhkan pendidikan setara SMA, yakni SPK. Sekarang, harus ksetara dengan Diploma 3.

Harapan pengusaha kuliner sate dan gulai yang bukan dari keluarga Madura ini akhirnya mendukung Bu Yuli muda melanjutkan jenjang pendidikan di SMA. Cita-cita bersekolah di SPK kandas karena belum memenuhi batas minimal umur yang menjadi ketentuan mutlak.

Lulus dari FKIP Universitas Jember, sempat menjadi guru sukarelawan (guru sukwan) di STM Pancasila dan SMAN Ambulu. Tidak berselang lama. Bu Yuli mengikuti tes CPNS. “Alhandulillah… Sekali ikut, kena, “terang bu guru yang suka travelling dan menyantap semua jenis makanan itu. Ia menerima SK penempatan tugas di SMPN 1 Jenggawah tahun 1998. Ia tergolong guru senior karena hingga sekarang tetap berdedikasi di sana.

Mengajar di Luar Negeri

Saat berhadapan dengan anak-anak yang mulai tumbuh menjadi kekompok remaja, dirinya berusaha keras agar mapel IPA yang diampunya gampang diterima oleh mereka. Bu Yuli kemudian berpikir keras untuk menemukan ide membuat mainan edukasi. Ternyata, alat peraga sederhana yang dibuatnya berhasil memindahkan konsep yang abstrak menjadi pengalaman yang kongkrit. Alhamdulillah.

Rasa syukur bu Yuli tidak berhenti sampai di situ. Mainan edukasi yang terkumpul tersebut kemudian ditulis dalam Laporan Penelitian Tindakan Kelas (LPTK). Pada tahun 2008, sepuluh tahun berpengalaman sebagai pendidik, LPTK yang disusun rapi itu ia kirimkan ke panitia Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran.

Pada Lomba yang bertaraf nasional itu, bu Yuli berhasil meraih juara pertama. Ia pun mendapatkan hadiah studi edukasi di Internasional School Bangkok, Thailand. Dalam kesempatan itu, ia juga berkesempatan mengunjungi sekolah bersatus negeri di Pataya.

Buku-buku Yuli Feri Indrawati
Buku-buku Yuli Feri Indrawati

Pada tahun 2010 bu Yuli mengikuti diikat penulisan buku. Dengan motto : sagu sabu, satu guru satu buku, setiap peserta dituntut menghasilkan satu buku. Syukur alhamdulillah, dirinya berhasil menulis dua buku dengan judul : Perahu Asa dan Suwarna Corona. Ada juga tiga tulisan yang terkumpul dalam tiga antologi, yaitu: Guru Penggerak, Guru Berdaya, kemudian pada Dari Pledoi Hingga Ajal Menjemput serta Sudahkah Kita Merdeka Belajar?

Pada tahun 2011, bu Yuli berkesempatan mengunjungi sekolah di luar negeri sekaligus mempersentasikan karya tulisnya di hadapan 350 peserta dari 14 negara. Kesempatan itu didapatnya saat memenangi Lomba Kreasi dan Inovasi Media Pembelajaran IPA SMP.

Lomba itu diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal PSMP Kemendibud. Rewardnya ialah overseas training di kampus Seameo Rescam Malaysia. Sedangkan dari Kantor Dinas Pendidikan Jember. Bu Yuli mendapatkan hadiah mengunjungi sekolah Thailand untuk kedua kalinya.

Yuli Feri bersama Suami, Yudhi Zulkarnaen
Yuli Feri bersama Suami, Yudhi Zulkarnaen

Pada tahun 2013, ibu dua orang putera yakni : Dyah Ayu Prameswari dan M. S. Samudra Rizky ini meraih juara kedua tingkat provinsi Jawa Timur dalam ajang Lomba Guru Berprestasi. Sedangkan di tingkat nasional, istri mas Yudhi Zulkarnaen ini merebut juara ketiga.

Bulan Juli ini, putri pasangan bapak Jadi Pramana dan ibu Sri Sudarsini akan merayakan ultah ke-47. Kebahagiaan bersama keluarga tentu sangat terasa seiring dengan berkembangnya usaha kuliner. Warung Kampez di selatan Alun-Alun Jenggawah dan di selatan Perhutani Ambulu semakin berkembang. Suatu bukti nyata kesuksesan usaha keluarga yang dirintis sejak beberapa tahun yang lalu. Selamat dan sukses selalu! (sr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *